Ngerinya Spiral Keheningan

Spiral of Silence

Pernahkah Anda berada dalam situasi di mana sekelompok orang keras meneriakkan pandangan, yang menurut akal sehat Anda keliru, namun Anda tak berdaya melawannya? Jangankan melawan, membantah atau bahkan menyuarakan keberatan saja Anda segan. Anda tengok kanan kiri, banyak kawan merasakan serupa, namun sekali lagi tak ada yang berani bersuara.

Pernahkah Anda berada dalam sebuah ruang, nyata maupun maya, di mana sebuah klaim kebenaran terus menerus dijejalkan, namun Anda tak berani menyanggah karena takut diserang balik atau bahkan dikeluarkan dari ruang tersebut?

Pernahkah Anda merasa jadi minoritas, jadi kambing hitam, hanya karena Anda tidak konform dengan pandangan sebagian pihak yang dominan di lingkungan sosial Anda?

Well, jika iya, Anda mengalami ngerinya spiral keheningan. Di mana ketakutan akan isolasi, peminggiran atau bahkn eksklusi, menjadikan individu memilih diam terhadap pandangan kelompok individu lain yang lebih dominan bersuara.

Kondisi ini semakin diperparah dengan keyakinan bahwa individu yang pandangannya beda tadi sendirian atau minoritas. Sehingga sadar tak sadar, dia akan mengadopsi mekanisme menahan diri dari menyuarakan pandangan atau keberatannya terhadap pandangan yang coba mendominansi tadi.

Apa yang terjadi selanjutnya? Well, bisa Anda tebak. Pandangan keras tadi lama kelamaan terinstitualisasi menjadi ‘norma’ kebenaran bersama. Dan mereka yang berseberangan dengan norma tersebut, semakin terpinggirkan, semakin terancam, semakin tak berdaya.

Belakangan, saya melihat situasi serupa di tanah air. Sekelompok orang, jumlahnya tak seberapa banyak awalnya, keras menyuarakan pandangan religius-politiknya. Mereka keras mengklaim tafsir kebenaran, sekaligus merendahkan tafsir kebenaran yang lain. Siapa yang tak sepakat, mereka labeli sebagai musuh kebenaran, musuh agama dan ujungnya musuh Tuhan.

Tahu yang terjadi berikutnya?

Karena tidak langsung dilawan, spiral keheningan perlahan bekerja. Publik luas yang entah karena cuek, atau enggan berurusan dan berdebat dengan kelompok macam ini mendiamkan. Berharap mereka akan diam dengan sendirinya. Namun, mereka tak juga diam. Alih-alih, mereka semakin bersemangat, mereka masuk menginfiltrasi media, merebut panggung-panggung sosial kemasyarakatan, bahkan merembes ke institusi publik, dan semakin keras menyuarakan pandangan intolerannya.

Spiral keheningan semakin terasa. Banyak pihak di publik kita karena khawatir labeling, khawatir disingkirkan, khawatir menjadi beda, mulai ikut mengadopsi pandangan keras mereka. Pelan, pelan, pelan, jumlah mereka bertambah. Beranak pinak bak cendawan di musim hujan. Sampai titik di mana mereka yang awalnya bergerak klandestin mulai berani menampakkan muka di publik. Mereka mulai berteriak di forum umum. Bikin deklarasi. Bikin acara di stadion. Demonstrasi di jalan.

Wait, wait, saya tidak bicara tentang nubuat tahun 2030, saya bicara tentang kondisi kontemporer kita. Saya tidak bicara fiksi atau imaji dalam angan-angan. Melainkan kondisi nyata, yang kalau Anda mau sejenak saja menengok kanan kiri, dengan gampang akan Anda temukan buktinya.

Spiral keheningan adalah mekanisme sosial sebagian besar kita. Namun bukan berarti kita musti tunduk kepadanya. Spiral keheningan justru musti kita jadikan peringatan, bahwa pembiaran, toleransi, atau kebaikan hati seringkali berujung pada kerugian bersama.

Kita musti berani bersuara saat melihat, mendengar atau mengetahui adanya keburukan. Jangan takut eksklusi, peminggiran atau labelilasi. Jangan tunduk pada klaim kebenaran sekelompok orang hanya karena mereka membungkusnya dengan jubah religiusitas sementara Anda tahu kepentingan mereka di belakangnya jauh dari itu.

Speak up! Jangan diam. Jangan biarkan ruang publik kita dikeruhkan mereka yang sedikit namun keras berteriak. Sementara kita yang banyak terpekur diam di pinggiran. Karena pertaruhannya bukan cuman hidup kita sekarang, namun hidup anak cucu kita di masa mendatang.

Tabik!

PK, Sticker Dewa dan Pembakaran Bendera

PK Aamir Khan

Riuh rendah polemik pembakaran bendera ormas di tanah air, membuat saya teringat film satu ini. PK, film India besutan Aamir Khan yang rilis 2014.

Ada satu adegan di mana PK masuk ke kuil Hindu yang ramai orang untuk mencuri uang di kotak amal. Sebelum melakukan aksinya, PK menempelkan dua sticker di pipi. Krishna dan Hanuman di masing-masingnya.

Buat apa? Proteksi katanya. Nyata benar. Saat pengunjung kuil mengetahui aksinya dan berebutan mau memukuli, PK menyodorkan pipi dan serempak publik ragu memukul. Tak lain karena sticker tadi.

Pararel saya temukan dalam kasus tanah air. Sebuah ormas menempelkan tulisan dalam lafal Arab yang jika dibaca adalah pernyataan ketauhidan umat Islam. Namun, serupa dengan PK, mereka menempelkannya bukan untuk memuja Tuhan, namun melindungi diri sendiri.

Mengapa butuh melindungi diri? Sekali lagi, pararel dengan PK, mereka tengah melakukan tindakan kriminal. Yaitu menggalang aksi merubah ideologi dan bentuk negara alias makar.

Serupa dengan PK, mereka butuh bendera dengan lafal tauhid itu untuk melindungi diri dari kemarahan umat yang mengetahui aksinya. Karena mereka paham, umat Islam pasti tidak mau atau paling tidak ragu memukuli mereka karena benderanya.

Cerdas? Yes, harus diakui mereka cerdas seperti PK. Atau lebih tepatnya licik. Ibarat serigala menyaru jadi domba.

Balik ke soal pembakaran, ada 2 isu utama dalam kasus ini. Pertama soal validitas klaim bendera berlafal arab itu sebagai bendera tauhid atau rasul. Kedua soal pembakarannya sebagai reaksi penolakan keberadaan ormas makar tadi.

Isu pertama, ada kajian menarik dari Prof Nadirsyah Hosen, seorang kyai muda NU, yang menunjukkan klaim bendera tauhid didasarkan hadist yang statusnya dhoif. Karenanya layak ditolak kebenaran klaim tadi. Di point ini, saya melihat masalah sudah clear.

Isu kedua, soal pembakaran, sebagai penolakan keberadaan ormas HTI sebagai hal yang benar namun kurang apik secara politis. Karena, insiden tadi menjelma jadi bola liar untuk menghantam Banser, NU dan pihak-pihak yang diasosiasikan dengannya (baca pemerintah).

Saya tidak akan berpolemik soal isu pertama. Biarkan para ahli agama membahasnya. Namun soal kedua, saya tertarik berpendapat.

Dalam pandangan saya, penggunaan bendera dengan lafal Tuhan di dalamnya adalah pembajakan terburuk atas agama. Apalagi kalau bendera tadi digunakan untuk kepentingan politik praktis. Ini adalah bukti kasat mata betapa sekelompok orang demi memuaskan hasratnya akan kekuasaan tega menjual agama dan nama Tuhan sebegitu rendahnya.

Tak kalah menyedihkan adalah, ketidakmpuan sebagian kita mengenalinya dan mencampuradukkannya dengan isu agama. Mereka yang karena emosi semata, melakukan pembelaan, tanpa mencoba menyibak layer lebih dalam bahwa semua ini perkara permainan kuasa.

Politik kita belakangan semakin kental dengan jargon-jargon identitas. Dan agama dengan segala simbolismenya adalah jargon yang seksi untuk dijual. Karenanya, dibutuhkan pikiran jernih dan akal sehat untuk bisa memilah mana yang adalah isu agama beneran dan mana yang isu politik dibalut jubah agama.

Di sini saya teringat perintah Tuhan pertama kali pada Kanjeng Nabi, yakni berpikir. Berpikir dan tidak menelan mentah-mentah. Berpikir memakai nalar dan logika bukan emosi semata. Karena tanpanya, kita hanya akan jadi korban permainan serigala berbulu domba.

Tabik!

Ilusi Strongman

Hasto Suprayogo - Ilusi Strongman

Belakangan di tanah air saya melihat kecenderungan sebagian kita merindukan pemimpin yang kuat. Strongman, demikian kita bisa menyebutnya.

Pemimpin yang dalam imaji pendukungnya, mampu merubah keadaan secara drastis. Menghapus hutang luar negeri. Mengambilalih sumberdaya alam yang dikuasai asing. Menjadikan Indonesia berjaya secara politik, ekonomi, militer dan sebagainya. Intinya di bawah kendalinya, negeri kita langsung jadi gemah ripah loh jinawi.

Saking rindunya sebagian kita akan sosok strongman macam ini, kita jadi lupa untuk kritis atasnya. Kritis akan rekam jejaknya secara personal maupun profesional. Kritis akan progam kerja yang ditawarkan.

Kritis akan tim pendukung yang mengawal langkahnya. Kritis akan kondisi geopolitik dan ekonomi global yang silang sengkarutnya mempengaruhi secara kuat kondisi bangsa kita.

Ada kecenderungan sebagian kita untuk menaruh akal sehat di bawah emosi dukungan atas strongman ini. Dan parahnya, sang strongman alih-alih mengingatkan pendukungnya untuk tetap memakai logika, justru mengeksploitasi sentimen emosional ini.

Belajar dari kasus-kasus serupa di berbagai negara, strongman muncul menumpangi demokrasi. Strongman menjejali publik dengan narasi politik identitas dan merchantilisme. Dia menghembuskan ketakutan publik akan musuh di luar sana yang musti ditakuti. Dan ujungnya, dia menampilkan diri sebagai satu-satunya penyelamat publik dari ketakutannya tadi.

Ada Hitler yang bangkit berkuasa di atas puing-puing Jerman era Republik Weimar. Dia gunakan narasi politik identitas ruang hidup masyarakat Jerman yang makin terkikis paska kekalahan Perang Dunia 1. Dia jual musuh bernama Yahudi. Dan ujung-ujungnya, dia naik berkuasa sebagai Fuhrer nan despotik di atas genangan darah jutaan korban rezim Nazinya.

Cerita sama di negeri-negeri lain. Pola sama, strategi serupa, hanya beda format dan kemasan ideologi. Mussolini di Italia, Franco di Spanyol, Stalin di Soviet atau Mao Zedong di China untuk menyebut beberapa diantaranya.

Bahkan si era sekarang, kita bisa temukan kecenderungan serupa. Strongman muncul di ranah politik berbagai negara, dan tak sedikit di antaranya yang berhasil berkuasa. Trump di Amerika Serikat dan Duterte di Filipina adalah dua contoh kontemporer kita.

Saya punya kekhawatiran hal serupa bisa saja terjadi di Indonesia. Arah-arahnya jelas terlihat. Kecenderungan itu ada dan belakangan menguat.

Saya melihat hal ini berbahaya. Ilusi strongman menafikkan akal sehat. Membuat kita alpa bahwa seorang pemimpin bukanlah superman apalagi rasul yang maksum. Dia hanyalah pengampu amanat publik yang musti dibatasi dan diawasi lewat sistem.

Ilusi strongman yang mensyaratkan adanya musuh bersama juga bahaya. Ia menjadikan publik paranoid akan kelompok lain, golongan minoritas, mereka yang berbeda. Ia merusak harmoni atas nama sekuritas.

Dalam pandangan saya, jika ada pemimpin atau kelompok politik yang terus menghembuskan narasi strongman sebagai juru selamat macam ini, tolaklah. Karena mereka menawarkan kejayaan, sementara sejarah mencatat, strongman macam ini berujung pada kehancuran.

Tabik!

Gagal Memahami Konteks

Hasto Suprayogo - Gagal Memahami Konteks

Pidato Presiden Jokowi dalam perhelatan IMF-World Bank di Bali mengundang decak kagum banyak pihak. Tak kurang Sekjen PBB, Direktur IMF juga pimpinan Bank Dunia menyebut ajakan kolaborasi Jokowi dengan metafora Game of Thrones sebagai hal yang mengena.

Jokowi memang lincah dalam mengemas pidato-pidatonya dengan idiom-idiom populer yang menyentil. Jika diingat, sebelumnya Presiden ketujuh kita itu pernah menggunakan analogi Avengers dan Thanos dalam pidatonya.

Namun, jika di depan khalayak internasional, idiom populer Jokowi tentang Game of Thrones menemukan resonansinya, hal sebaliknya di tanah air.

Upaya Jokowi menyampaikan perlunya kerjasama internasional, bahaya perang dagang dan perebutan hegemoni geopolitik antar negara adikuasa lewat idiom serial tv tersebut justru diserang oleh berbagai pihak di Indonesia. Tentunya kubu oposisi menjadi yang terdepan.

Saya tidak akan berkomentar jika hanya pihak politisi oposisi yang menyerang. Adalah wajar mereka lakukan dalam tahun politik macam sekarang.

Namun, banyak pihak lain, publik awam yang turut menyerang penggunaan idiom tadi. Bahkan seorang kawan jurnalis dalam sebuah diskusi menyerang soal Game of Thrones ini.

Sekali lagi, saya tidak akan berkomentar kalau kritik mereka terkait substansi pidato. Tentang pentingnya kerjasama internasional, tentang perang dagang dan sebagainya. Sayangnya yang mereka kritik soal penggunaan idiom Game of Thrones.

Banyak yang menyebut kenapa Presiden memakai Game of Thrones. Di dalamnya kan banyak kekerasan, adegan seks dan lain sebagainya. Iya, mereka mengkritik karena Game of Thrones dipenuhi adegan seks yang dalam pandangan mereka tidak Islami.

Kenapa Presiden tidak menggunakan seri TV lain, Upin Ipin atau Donald Duck misalnya, demikian tanya kawan saya tadi.

Well, pertama Game of Thrones dalam pidato Jokowi hanyalah metafora. Ia adalah wahana yang dipakai Presiden untuk menggambarkan kondisi dan konstelasi politik ekonomi dunia. Jokowi tidak sedang bicara soal serial itu sendiri.

Game of Thrones dalam pidato itu tak bisa dilepaskan dari konteks utama pesan Jokowi soal pentingnya kerjasama antarnegara dalam menghadapi krisis global, yang diibaratkannya dengan kerjasama para Houses dan Family menghadapi Evil Winter.

Namun sayang seribu sayang, masih banyak kawan kita yang tidak bisa, atau tidak mau, melihat konteks. Mereka mencomot soal House of Thrones dan mengkritisnya menggunakan pisau moralitas dan agama, yang tidak ada urusannya sama sekali dengan point pidato Jokowi itu sendiri.

Entah ini bentuk kecerobohan atau kesempitan pikir. Memotong satu hal, melepaskannya dari konteks lalu menggunakannya untuk menyerang pihak lain adalah hal yang memuakkan.

Saya prihatin, masih banyak saudara kita yang seperti itu. Saya berharap Anda yang membaca tulisan ini tidak masuk di dalamnya. Kritik itu boleh, namun kritiklah dengan logis dan kontekstual.

Tabik!

El Che dan Idealisme Pemuda

Che Guevara

Bisa dibilang, Che Guevara adalah salah satu tokoh paling populer di dunia. Bahkan bagi yang tidak tertarik soal politik, atau isu-isu revolusioner yang diusungnya, mereka pasti sekali waktu dengar atau menyimak citra wajahnya.

Bagi saya, El Che, demikian dia akrab disapa, adalah representasi idealisme kaum muda. Cerita tentang perjalanannya keliling Amerika Latin naik sepeda motor di awal abad 20, dilanjutkan keputusannya bergabung dengan kelompok pemberontak Fidel Castro dan menjalankan perang gerilya selama dua tahun di hutan perawan Cuba hingga akhirnya mereka berhasil menggulingkan diktator Fulgencio Batista amatlah legendaris.

Kiprahnya di dunia internasional dalam mengkampanyekan idealisme sosialis yang dipercaya, juga upaya nyatanya membantu gerakan politik antiimperialisme di berbagai negara, hingga akhir hidupnya di ujung senapan pasukan pemerintah Bolivia pada 9 Oktober 1967, semakin menguatkan imaji publik atasnya. Ya, di usia 39 tahun, Che Guevara menempatkan dirinya di jajaran para martir ideologis dunia.

Soekarno pernah lantang berkata, berikan aku sepuluh pemuda maka akan kuguncang dunia. Nampaknya ucapan ini tak hanya bunga bibir semata, kalau melihat kasus Che. Dan pastinya, Soekarno bukan sosok yang tidak terinspirasi oleh karibnya tersebut. Keduanya sama-sama mengawali karir sebagai pejuang revolusioner di kala belia, hanya bedanya Soekarno bertahan sampai usia senja di puncak kuasa, sementara Che berkalang tanah di negeri tetangga.

Revolusi mensyaratkan idealisme, itu yang saya percaya. Dan idealisme, umumnya membara di dada para pemuda. Ibarat cinta, idealisme akan bangsa menemukan ladang persemaian terbaiknya di jiwa kaum muda. Dan Che adalah bukti nyatanya.

Hari ini, 51 tahun lalu, sosok dokter asal Argentina ini meninggalkan dunia. Tubuhnya tersungkur diberondong peluru serdadu Bolivia. Namun jiwa dan perjuangannya, tetap abadi menginspirasi ribuan bahkan jutaan jiwa-jiwa pemuda di luar sana.

Hasta la victoria siempre el Comandante!

Manusia Berkacamata Kuda

Hasto Suprayogo - Kacamata Kuda

Trenyuh mendapati tak sedikit warga yang mengaitkan bencana gempa dan tsunami Palu dengan perkara politik. Mereka mengaitkan tragedi yang merenggut sejauh ini 800an lebih nyawa saudara kita di Sulawesi Tengah dengan pertarungan kekuasaan para elit.

Ini bukan kali pertama bencana alam dihubung-hubungkan dengan kepentingan kekuasaan, dan nampaknya bukan kali terakhir. Ini bukan kali pertama kepedihan para korban dimanfaatkan sebagai amunisi serangan kepada lawan.

Bagaimana bisa ada sekelompok orang yang melakukan hal semacam itu? Bagaimana menjelaskan mental macam apa yang melatarbelakangi perilaku seperti itu?

Jika kita simak profiling mereka yang melakukan pengaitan bencana dengan politik bukan hanya masyarakat awam, bukan hanya orang tak berpendidikan. Malah kabarnya ada seorang Profesor hukum yang turut menyebar analisis gotak-gatuk bencana Palu dengan penetapan tersangka seorang self-proclaimed tokoh agama yang kebetulan sohor karena gemar mencacimaki pemerintah.

Kacamata kuda, demikian saya menyebutnya. Manusia berkacamata kuda. Mereka yang hanya melihat dan mau melihat dunia dengan segala masalahnya dari satu perspektif belaka.

Mereka punya prakonsepsi akan suatu hal—misal agama—dan menjadikannya satu-satunya parameter dalam menilai kebenaran. Kata kuncinya adalah ‘pokoknya’, alias apapun harus sesuai nilai yang dipercayanya sebagai filter kebenaran. Yang ga sesuai yang dilabeli salah.

Berurusan dengan orang-orang macam ini tak hanya susah, namun menjengkelkan. Logika tak bekerja, fakta tak diterima, bahkan realita kalau perlu didistorsi dengan memenuhi apa yang dianggapnya kebenaran semestinya.

Bagi saya mempunyai preferensi politik itu boleh-boleh saja. Mempunyai kecenderungan ideologis itu hak setiap kita. Menyukai atau tidak seorang pemimpin itu wajar kiranya.

Namun, menutup mata hanya pada apa-apa yang sesuai keinginan kita, mengarang dan menyebar cerita bohong demi memuaskan hasrat kuasa adalah absurd adanya.

Tak akan maju mereka yang berkacamata kuda. Tak akan berkembang mereka yang hanya menilai hitam putih dunia. Tak akan berhasil mereka yang merasa paling benar sementara yang lain selalu salah dari awalnya.

Logika, akal sehat dan empati adalah potensi yang dimiliki setiap kita. Namun hanya dengan mengasah dan memberdayakannya secara maksimal kita bisa menjadi manusia yang sebenarnya.

Jika ketiga hal tadi tak kita berdayakan, yang ada adalah pernyataan dan tindakan-tindakan bodoh bin absurd dari mereka para manusia berkacamata kuda.

Wajah Seram Loyalitas Konsumen Berlebihan

Hasto Suprayogo - Consumer Tribe

Membaca kabar tewasnya suporter sepakbola tanah air, saya mengelus dada. Prihatin sekaligus tak habis pikir. Nyawa anak manusia dicabut paksa untuk alasan yang pelakunya belum tentu paham maknanya.

Jika sebuah aksi sahihnya dilandasi motif tertentu, maka motif apa yang melatarbelakangi aksi pembantaian tersebut?

Jika sebuah tindakan dilakukan untuk mencapai tujuan, apa yang diraih dari perbuatan biadab tersebut?

Saya teringat kajian tentang consumers tribes. Sekelompok orang yang terkoneksi secara emosional lewat produk konsumsi dan menggunakan nilai keterkaitan produk tadi untuk menciptakan komunitas dan mengekspresikan identitasnya.

Singkat kata, mereka yang menemukan identitas diri dalam keramaian kelompok penggemar suatu brand. Brand kesebelasan sepakbola dan komunitas suporternya dalam contoh ini. Anda mungkin familier dengannya, atau bahkan tergabung di dalamnya.

Tak ada yang salah dengan menjadi fan sebuah brand, tak ada masalah pula dengan bergabung dalam tribe konsumen suatu brand. Yang jadi salah adalah, ketika loyalitas atas brand dan atas tribe tadi mengalahkan akal sehat Anda.

Kasus kekerasan antar suporter bola bukan kali pertama terjadi. Korban jiwa juga bukan kali pertama jatuh. Namun baru kali ini di tanah air dampaknya sebegitu kuat terasa. Dengar-dengar Liga kita pun akan dihentikan sementara karenanya.

Namun, saya melihat menghentikan jalannya liga bukan solusi nyata. Bukan itu dibutuhkan guna mencegah kejadian serupa. Yang bermasalah adalah pemaknaan sebagian suporter akan loyalitasnya pada tim sepakbola. Yang bermasalah adalah identitas diri yang dileburkannya pada identitas kelompok. Yang bermasalah adalah kapitalisasi sentimen ini oleh pelaku bisnis sepakbola tanpa memikirkan dampak buruknya.

Suporter adalah aset industri sepakbola. Mereka adalah konsumen sekaligus bagian dari hiburan itu sendiri. Layaknya konsumen, mereka berhak dilindungi dan difasilitasi.

Siapa yang musti melindungi dan memfasilitasi para suporter bola ini? Satu pasti adalah pelaku bisnis sepakbola. Manajemen kesebelasan, asosiasi sepakbola, pemerintah dan semua stakeholders yang turut menikmati remah kue industri ini.

Perlindungan tak hanya soal keamanan saat menonton bola, namun juga pengawasan dan pencegahan aksi-aksi melanggar hukum akibat loyalitas berlebih tribe konsumen sepakbola tadi.

Sementara, kelompok suporter juga musti berefleksi dan berbenah. Apakah sentimen loyalitas dan identitas kelompoknya mewujud positif ataukah justru sebaliknya. Apakah ikatan emosional atas nama, misal Viking, Bobotoh atau Jakmania, ini menjadikan anggotanya menjadi sosok yang lebih baik atau tidak?

Ini adalah PR kita semua. Membangun kesadaran, iklim sekaligus sistem dan penegakan hukum yang lebih baik. Sehingga tak perlu lagi ada anak bangsa yang meregang nyawa demi loyalitas semu tribe konsumsi seperti yang dialami Haringga Sirla.

Tabik!

Transportasi Publik Tepat Waktu

Hasto Suprayogo - Bus Bournemouth

Satu hal positif dari hidup di negeri ini adalah transportasi publiknya yang tepat waktu. Khususnya moda angkutan bus. Di kota tempat saya tinggal, setidaknya ada 2 armada bus utama dalam kota. Yellow bus yang tampilannya sesuai namanya, berwarna kuning dan More bus yang berwarna biru merah.

Di luar soal tampilan luar, keduanya melayani jalur yang hampir serupa. Harga tiketnya pun sama, begitu pula jam operasionalnya.

Kedua armada dioperasikan oleh perusahaan swasta. Meski dulunya, Yellow Bus adalah perusahaan milik pemerintah lokal Bournemouth, persaingan bisnis dan tuntutan jaman membuatnya musti dilego ke swasta.

Kembali soal ketepatan waktu, saya menyebut hal ini sebagai keunggulan utamanya. Bus datang tepat waktu, sampai tujuan pun tepat waktu. Tentunya bagi kami para pekerja, hal ini sangat membantu.

Tak ada cerita bus ngetem melewati batas waktu yang dijadwalkan. Kalau kita telat alamat ditinggal bablas. Bagus untuk melatih diri tepat waktu juga.

Saya menyimpan harapan, saat nanti kembali ke tanah air, akan menemui layanan transportasi publik yang tepat waktu juga.

Semoga.

Asian Games dan Optimisme Berjamaah

Hasto Suprayogo - Asian Games Jakarta

Ada gelombang besar nan tengah memabukkan segenap lapisan masyarakat kita. Gelombang optimisme. Yang tak lain dan tak bukan disebabkan oleh capaian para atlet Indonesia di kancah kompetisi olahraga terbesar di Asia, apalagi kalau bukan Asian Games ke 18 di Jakarta dan Palembang.

Target Kemenpora 16 emas dan peringkat 10 besar berhasil dilampaui para atlet kita. Bahkan per hari ini, sudah terkumpul 22 medali emas dari pelbagai cabang olah raga. Dengan sisa waktu seminggu lagi, tak diragukan raihan ini akan terus bertambah.

Saya melihat amat bagus efek psikologis yang ditimbulkan oleh capaian luar biasa ini. Optimisme publik meningkat pesat, kepercayaan diri pada bangsa dan kemampuan anak negeri membumbung tinggi. Kita tak hanya bercita jadi macan Asia, tapi kita nyata menuju ke sana lewat prestasi olah raga.

Saya yang jauh di negeri orang sering senyum-senyum sendiri saat membaca berita hasil pertandingan Asian Games. Saya bisa bayangkan betapa suka rianya kawan-kawan semua yang ada di sana langsung menyaksikan aksinya.

Ini adalah momentum bagus bagi bangsa Indonesia. Momentum untuk bangkit dan berjuang di bidang-bidang lain. Momentum untuk bangun dan berubah menjadi lebih baik. Momentum untuk bersatu demi masa depan bersama.

Mumpung kita semua dijangkiti virus optimisme, mumpung sentimen nasionalisme kita sedang naik ke ibun-ubun, mari tindaklanjuti dengan aksi nyata berupa karya. Di segenap bidang yang kita bisa.

Yang jadi pengusaha berbisnislah dengan lebih baik. Yang bekerja lakukanlah jobdesknya lebih baik. Yang jadi aparat layanilah publik lebih baik. Yang jadi politisi kurangilah perilaku busuk kalian. Yang jadi publik dan netizen berhentilah nyinyir dan saling menghujat.

Bangsa kita beruntung diberi momen macam Asian Games ini. Bukan semata karena kesempatan meraih prestasi olah raga, namun ini adalah kesempatan untuk kembali bersatu dan maju bersama menyongsong masa depan.

So, mumpung optimisme berjamaah ini merasuki kita semua, ayo bergandengan tangan dan maju lewat karya.

Tabik!