Ngerinya Spiral Keheningan

Spiral of Silence

Pernahkah Anda berada dalam situasi di mana sekelompok orang keras meneriakkan pandangan, yang menurut akal sehat Anda keliru, namun Anda tak berdaya melawannya? Jangankan melawan, membantah atau bahkan menyuarakan keberatan saja Anda segan. Anda tengok kanan kiri, banyak kawan merasakan serupa, namun sekali lagi tak ada yang berani bersuara.

Pernahkah Anda berada dalam sebuah ruang, nyata maupun maya, di mana sebuah klaim kebenaran terus menerus dijejalkan, namun Anda tak berani menyanggah karena takut diserang balik atau bahkan dikeluarkan dari ruang tersebut?

Pernahkah Anda merasa jadi minoritas, jadi kambing hitam, hanya karena Anda tidak konform dengan pandangan sebagian pihak yang dominan di lingkungan sosial Anda?

Well, jika iya, Anda mengalami ngerinya spiral keheningan. Di mana ketakutan akan isolasi, peminggiran atau bahkn eksklusi, menjadikan individu memilih diam terhadap pandangan kelompok individu lain yang lebih dominan bersuara.

Kondisi ini semakin diperparah dengan keyakinan bahwa individu yang pandangannya beda tadi sendirian atau minoritas. Sehingga sadar tak sadar, dia akan mengadopsi mekanisme menahan diri dari menyuarakan pandangan atau keberatannya terhadap pandangan yang coba mendominansi tadi.

Apa yang terjadi selanjutnya? Well, bisa Anda tebak. Pandangan keras tadi lama kelamaan terinstitualisasi menjadi ‘norma’ kebenaran bersama. Dan mereka yang berseberangan dengan norma tersebut, semakin terpinggirkan, semakin terancam, semakin tak berdaya.

Belakangan, saya melihat situasi serupa di tanah air. Sekelompok orang, jumlahnya tak seberapa banyak awalnya, keras menyuarakan pandangan religius-politiknya. Mereka keras mengklaim tafsir kebenaran, sekaligus merendahkan tafsir kebenaran yang lain. Siapa yang tak sepakat, mereka labeli sebagai musuh kebenaran, musuh agama dan ujungnya musuh Tuhan.

Tahu yang terjadi berikutnya?

Karena tidak langsung dilawan, spiral keheningan perlahan bekerja. Publik luas yang entah karena cuek, atau enggan berurusan dan berdebat dengan kelompok macam ini mendiamkan. Berharap mereka akan diam dengan sendirinya. Namun, mereka tak juga diam. Alih-alih, mereka semakin bersemangat, mereka masuk menginfiltrasi media, merebut panggung-panggung sosial kemasyarakatan, bahkan merembes ke institusi publik, dan semakin keras menyuarakan pandangan intolerannya.

Spiral keheningan semakin terasa. Banyak pihak di publik kita karena khawatir labeling, khawatir disingkirkan, khawatir menjadi beda, mulai ikut mengadopsi pandangan keras mereka. Pelan, pelan, pelan, jumlah mereka bertambah. Beranak pinak bak cendawan di musim hujan. Sampai titik di mana mereka yang awalnya bergerak klandestin mulai berani menampakkan muka di publik. Mereka mulai berteriak di forum umum. Bikin deklarasi. Bikin acara di stadion. Demonstrasi di jalan.

Wait, wait, saya tidak bicara tentang nubuat tahun 2030, saya bicara tentang kondisi kontemporer kita. Saya tidak bicara fiksi atau imaji dalam angan-angan. Melainkan kondisi nyata, yang kalau Anda mau sejenak saja menengok kanan kiri, dengan gampang akan Anda temukan buktinya.

Spiral keheningan adalah mekanisme sosial sebagian besar kita. Namun bukan berarti kita musti tunduk kepadanya. Spiral keheningan justru musti kita jadikan peringatan, bahwa pembiaran, toleransi, atau kebaikan hati seringkali berujung pada kerugian bersama.

Kita musti berani bersuara saat melihat, mendengar atau mengetahui adanya keburukan. Jangan takut eksklusi, peminggiran atau labelilasi. Jangan tunduk pada klaim kebenaran sekelompok orang hanya karena mereka membungkusnya dengan jubah religiusitas sementara Anda tahu kepentingan mereka di belakangnya jauh dari itu.

Speak up! Jangan diam. Jangan biarkan ruang publik kita dikeruhkan mereka yang sedikit namun keras berteriak. Sementara kita yang banyak terpekur diam di pinggiran. Karena pertaruhannya bukan cuman hidup kita sekarang, namun hidup anak cucu kita di masa mendatang.

Tabik!

Wajah Seram Loyalitas Konsumen Berlebihan

Hasto Suprayogo - Consumer Tribe

Membaca kabar tewasnya suporter sepakbola tanah air, saya mengelus dada. Prihatin sekaligus tak habis pikir. Nyawa anak manusia dicabut paksa untuk alasan yang pelakunya belum tentu paham maknanya.

Jika sebuah aksi sahihnya dilandasi motif tertentu, maka motif apa yang melatarbelakangi aksi pembantaian tersebut?

Jika sebuah tindakan dilakukan untuk mencapai tujuan, apa yang diraih dari perbuatan biadab tersebut?

Saya teringat kajian tentang consumers tribes. Sekelompok orang yang terkoneksi secara emosional lewat produk konsumsi dan menggunakan nilai keterkaitan produk tadi untuk menciptakan komunitas dan mengekspresikan identitasnya.

Singkat kata, mereka yang menemukan identitas diri dalam keramaian kelompok penggemar suatu brand. Brand kesebelasan sepakbola dan komunitas suporternya dalam contoh ini. Anda mungkin familier dengannya, atau bahkan tergabung di dalamnya.

Tak ada yang salah dengan menjadi fan sebuah brand, tak ada masalah pula dengan bergabung dalam tribe konsumen suatu brand. Yang jadi salah adalah, ketika loyalitas atas brand dan atas tribe tadi mengalahkan akal sehat Anda.

Kasus kekerasan antar suporter bola bukan kali pertama terjadi. Korban jiwa juga bukan kali pertama jatuh. Namun baru kali ini di tanah air dampaknya sebegitu kuat terasa. Dengar-dengar Liga kita pun akan dihentikan sementara karenanya.

Namun, saya melihat menghentikan jalannya liga bukan solusi nyata. Bukan itu dibutuhkan guna mencegah kejadian serupa. Yang bermasalah adalah pemaknaan sebagian suporter akan loyalitasnya pada tim sepakbola. Yang bermasalah adalah identitas diri yang dileburkannya pada identitas kelompok. Yang bermasalah adalah kapitalisasi sentimen ini oleh pelaku bisnis sepakbola tanpa memikirkan dampak buruknya.

Suporter adalah aset industri sepakbola. Mereka adalah konsumen sekaligus bagian dari hiburan itu sendiri. Layaknya konsumen, mereka berhak dilindungi dan difasilitasi.

Siapa yang musti melindungi dan memfasilitasi para suporter bola ini? Satu pasti adalah pelaku bisnis sepakbola. Manajemen kesebelasan, asosiasi sepakbola, pemerintah dan semua stakeholders yang turut menikmati remah kue industri ini.

Perlindungan tak hanya soal keamanan saat menonton bola, namun juga pengawasan dan pencegahan aksi-aksi melanggar hukum akibat loyalitas berlebih tribe konsumen sepakbola tadi.

Sementara, kelompok suporter juga musti berefleksi dan berbenah. Apakah sentimen loyalitas dan identitas kelompoknya mewujud positif ataukah justru sebaliknya. Apakah ikatan emosional atas nama, misal Viking, Bobotoh atau Jakmania, ini menjadikan anggotanya menjadi sosok yang lebih baik atau tidak?

Ini adalah PR kita semua. Membangun kesadaran, iklim sekaligus sistem dan penegakan hukum yang lebih baik. Sehingga tak perlu lagi ada anak bangsa yang meregang nyawa demi loyalitas semu tribe konsumsi seperti yang dialami Haringga Sirla.

Tabik!

Asian Games dan Optimisme Berjamaah

Hasto Suprayogo - Asian Games Jakarta

Ada gelombang besar nan tengah memabukkan segenap lapisan masyarakat kita. Gelombang optimisme. Yang tak lain dan tak bukan disebabkan oleh capaian para atlet Indonesia di kancah kompetisi olahraga terbesar di Asia, apalagi kalau bukan Asian Games ke 18 di Jakarta dan Palembang.

Target Kemenpora 16 emas dan peringkat 10 besar berhasil dilampaui para atlet kita. Bahkan per hari ini, sudah terkumpul 22 medali emas dari pelbagai cabang olah raga. Dengan sisa waktu seminggu lagi, tak diragukan raihan ini akan terus bertambah.

Saya melihat amat bagus efek psikologis yang ditimbulkan oleh capaian luar biasa ini. Optimisme publik meningkat pesat, kepercayaan diri pada bangsa dan kemampuan anak negeri membumbung tinggi. Kita tak hanya bercita jadi macan Asia, tapi kita nyata menuju ke sana lewat prestasi olah raga.

Saya yang jauh di negeri orang sering senyum-senyum sendiri saat membaca berita hasil pertandingan Asian Games. Saya bisa bayangkan betapa suka rianya kawan-kawan semua yang ada di sana langsung menyaksikan aksinya.

Ini adalah momentum bagus bagi bangsa Indonesia. Momentum untuk bangkit dan berjuang di bidang-bidang lain. Momentum untuk bangun dan berubah menjadi lebih baik. Momentum untuk bersatu demi masa depan bersama.

Mumpung kita semua dijangkiti virus optimisme, mumpung sentimen nasionalisme kita sedang naik ke ibun-ubun, mari tindaklanjuti dengan aksi nyata berupa karya. Di segenap bidang yang kita bisa.

Yang jadi pengusaha berbisnislah dengan lebih baik. Yang bekerja lakukanlah jobdesknya lebih baik. Yang jadi aparat layanilah publik lebih baik. Yang jadi politisi kurangilah perilaku busuk kalian. Yang jadi publik dan netizen berhentilah nyinyir dan saling menghujat.

Bangsa kita beruntung diberi momen macam Asian Games ini. Bukan semata karena kesempatan meraih prestasi olah raga, namun ini adalah kesempatan untuk kembali bersatu dan maju bersama menyongsong masa depan.

So, mumpung optimisme berjamaah ini merasuki kita semua, ayo bergandengan tangan dan maju lewat karya.

Tabik!