El Che dan Idealisme Pemuda

Che Guevara

Bisa dibilang, Che Guevara adalah salah satu tokoh paling populer di dunia. Bahkan bagi yang tidak tertarik soal politik, atau isu-isu revolusioner yang diusungnya, mereka pasti sekali waktu dengar atau menyimak citra wajahnya.

Bagi saya, El Che, demikian dia akrab disapa, adalah representasi idealisme kaum muda. Cerita tentang perjalanannya keliling Amerika Latin naik sepeda motor di awal abad 20, dilanjutkan keputusannya bergabung dengan kelompok pemberontak Fidel Castro dan menjalankan perang gerilya selama dua tahun di hutan perawan Cuba hingga akhirnya mereka berhasil menggulingkan diktator Fulgencio Batista amatlah legendaris.

Kiprahnya di dunia internasional dalam mengkampanyekan idealisme sosialis yang dipercaya, juga upaya nyatanya membantu gerakan politik antiimperialisme di berbagai negara, hingga akhir hidupnya di ujung senapan pasukan pemerintah Bolivia pada 9 Oktober 1967, semakin menguatkan imaji publik atasnya. Ya, di usia 39 tahun, Che Guevara menempatkan dirinya di jajaran para martir ideologis dunia.

Soekarno pernah lantang berkata, berikan aku sepuluh pemuda maka akan kuguncang dunia. Nampaknya ucapan ini tak hanya bunga bibir semata, kalau melihat kasus Che. Dan pastinya, Soekarno bukan sosok yang tidak terinspirasi oleh karibnya tersebut. Keduanya sama-sama mengawali karir sebagai pejuang revolusioner di kala belia, hanya bedanya Soekarno bertahan sampai usia senja di puncak kuasa, sementara Che berkalang tanah di negeri tetangga.

Revolusi mensyaratkan idealisme, itu yang saya percaya. Dan idealisme, umumnya membara di dada para pemuda. Ibarat cinta, idealisme akan bangsa menemukan ladang persemaian terbaiknya di jiwa kaum muda. Dan Che adalah bukti nyatanya.

Hari ini, 51 tahun lalu, sosok dokter asal Argentina ini meninggalkan dunia. Tubuhnya tersungkur diberondong peluru serdadu Bolivia. Namun jiwa dan perjuangannya, tetap abadi menginspirasi ribuan bahkan jutaan jiwa-jiwa pemuda di luar sana.

Hasta la victoria siempre el Comandante!

Manusia Berkacamata Kuda

Hasto Suprayogo - Kacamata Kuda

Trenyuh mendapati tak sedikit warga yang mengaitkan bencana gempa dan tsunami Palu dengan perkara politik. Mereka mengaitkan tragedi yang merenggut sejauh ini 800an lebih nyawa saudara kita di Sulawesi Tengah dengan pertarungan kekuasaan para elit.

Ini bukan kali pertama bencana alam dihubung-hubungkan dengan kepentingan kekuasaan, dan nampaknya bukan kali terakhir. Ini bukan kali pertama kepedihan para korban dimanfaatkan sebagai amunisi serangan kepada lawan.

Bagaimana bisa ada sekelompok orang yang melakukan hal semacam itu? Bagaimana menjelaskan mental macam apa yang melatarbelakangi perilaku seperti itu?

Jika kita simak profiling mereka yang melakukan pengaitan bencana dengan politik bukan hanya masyarakat awam, bukan hanya orang tak berpendidikan. Malah kabarnya ada seorang Profesor hukum yang turut menyebar analisis gotak-gatuk bencana Palu dengan penetapan tersangka seorang self-proclaimed tokoh agama yang kebetulan sohor karena gemar mencacimaki pemerintah.

Kacamata kuda, demikian saya menyebutnya. Manusia berkacamata kuda. Mereka yang hanya melihat dan mau melihat dunia dengan segala masalahnya dari satu perspektif belaka.

Mereka punya prakonsepsi akan suatu hal—misal agama—dan menjadikannya satu-satunya parameter dalam menilai kebenaran. Kata kuncinya adalah ‘pokoknya’, alias apapun harus sesuai nilai yang dipercayanya sebagai filter kebenaran. Yang ga sesuai yang dilabeli salah.

Berurusan dengan orang-orang macam ini tak hanya susah, namun menjengkelkan. Logika tak bekerja, fakta tak diterima, bahkan realita kalau perlu didistorsi dengan memenuhi apa yang dianggapnya kebenaran semestinya.

Bagi saya mempunyai preferensi politik itu boleh-boleh saja. Mempunyai kecenderungan ideologis itu hak setiap kita. Menyukai atau tidak seorang pemimpin itu wajar kiranya.

Namun, menutup mata hanya pada apa-apa yang sesuai keinginan kita, mengarang dan menyebar cerita bohong demi memuaskan hasrat kuasa adalah absurd adanya.

Tak akan maju mereka yang berkacamata kuda. Tak akan berkembang mereka yang hanya menilai hitam putih dunia. Tak akan berhasil mereka yang merasa paling benar sementara yang lain selalu salah dari awalnya.

Logika, akal sehat dan empati adalah potensi yang dimiliki setiap kita. Namun hanya dengan mengasah dan memberdayakannya secara maksimal kita bisa menjadi manusia yang sebenarnya.

Jika ketiga hal tadi tak kita berdayakan, yang ada adalah pernyataan dan tindakan-tindakan bodoh bin absurd dari mereka para manusia berkacamata kuda.

Wajah Seram Loyalitas Konsumen Berlebihan

Hasto Suprayogo - Consumer Tribe

Membaca kabar tewasnya suporter sepakbola tanah air, saya mengelus dada. Prihatin sekaligus tak habis pikir. Nyawa anak manusia dicabut paksa untuk alasan yang pelakunya belum tentu paham maknanya.

Jika sebuah aksi sahihnya dilandasi motif tertentu, maka motif apa yang melatarbelakangi aksi pembantaian tersebut?

Jika sebuah tindakan dilakukan untuk mencapai tujuan, apa yang diraih dari perbuatan biadab tersebut?

Saya teringat kajian tentang consumers tribes. Sekelompok orang yang terkoneksi secara emosional lewat produk konsumsi dan menggunakan nilai keterkaitan produk tadi untuk menciptakan komunitas dan mengekspresikan identitasnya.

Singkat kata, mereka yang menemukan identitas diri dalam keramaian kelompok penggemar suatu brand. Brand kesebelasan sepakbola dan komunitas suporternya dalam contoh ini. Anda mungkin familier dengannya, atau bahkan tergabung di dalamnya.

Tak ada yang salah dengan menjadi fan sebuah brand, tak ada masalah pula dengan bergabung dalam tribe konsumen suatu brand. Yang jadi salah adalah, ketika loyalitas atas brand dan atas tribe tadi mengalahkan akal sehat Anda.

Kasus kekerasan antar suporter bola bukan kali pertama terjadi. Korban jiwa juga bukan kali pertama jatuh. Namun baru kali ini di tanah air dampaknya sebegitu kuat terasa. Dengar-dengar Liga kita pun akan dihentikan sementara karenanya.

Namun, saya melihat menghentikan jalannya liga bukan solusi nyata. Bukan itu dibutuhkan guna mencegah kejadian serupa. Yang bermasalah adalah pemaknaan sebagian suporter akan loyalitasnya pada tim sepakbola. Yang bermasalah adalah identitas diri yang dileburkannya pada identitas kelompok. Yang bermasalah adalah kapitalisasi sentimen ini oleh pelaku bisnis sepakbola tanpa memikirkan dampak buruknya.

Suporter adalah aset industri sepakbola. Mereka adalah konsumen sekaligus bagian dari hiburan itu sendiri. Layaknya konsumen, mereka berhak dilindungi dan difasilitasi.

Siapa yang musti melindungi dan memfasilitasi para suporter bola ini? Satu pasti adalah pelaku bisnis sepakbola. Manajemen kesebelasan, asosiasi sepakbola, pemerintah dan semua stakeholders yang turut menikmati remah kue industri ini.

Perlindungan tak hanya soal keamanan saat menonton bola, namun juga pengawasan dan pencegahan aksi-aksi melanggar hukum akibat loyalitas berlebih tribe konsumen sepakbola tadi.

Sementara, kelompok suporter juga musti berefleksi dan berbenah. Apakah sentimen loyalitas dan identitas kelompoknya mewujud positif ataukah justru sebaliknya. Apakah ikatan emosional atas nama, misal Viking, Bobotoh atau Jakmania, ini menjadikan anggotanya menjadi sosok yang lebih baik atau tidak?

Ini adalah PR kita semua. Membangun kesadaran, iklim sekaligus sistem dan penegakan hukum yang lebih baik. Sehingga tak perlu lagi ada anak bangsa yang meregang nyawa demi loyalitas semu tribe konsumsi seperti yang dialami Haringga Sirla.

Tabik!

Transportasi Publik Tepat Waktu

Hasto Suprayogo - Bus Bournemouth

Satu hal positif dari hidup di negeri ini adalah transportasi publiknya yang tepat waktu. Khususnya moda angkutan bus. Di kota tempat saya tinggal, setidaknya ada 2 armada bus utama dalam kota. Yellow bus yang tampilannya sesuai namanya, berwarna kuning dan More bus yang berwarna biru merah.

Di luar soal tampilan luar, keduanya melayani jalur yang hampir serupa. Harga tiketnya pun sama, begitu pula jam operasionalnya.

Kedua armada dioperasikan oleh perusahaan swasta. Meski dulunya, Yellow Bus adalah perusahaan milik pemerintah lokal Bournemouth, persaingan bisnis dan tuntutan jaman membuatnya musti dilego ke swasta.

Kembali soal ketepatan waktu, saya menyebut hal ini sebagai keunggulan utamanya. Bus datang tepat waktu, sampai tujuan pun tepat waktu. Tentunya bagi kami para pekerja, hal ini sangat membantu.

Tak ada cerita bus ngetem melewati batas waktu yang dijadwalkan. Kalau kita telat alamat ditinggal bablas. Bagus untuk melatih diri tepat waktu juga.

Saya menyimpan harapan, saat nanti kembali ke tanah air, akan menemui layanan transportasi publik yang tepat waktu juga.

Semoga.

Asian Games dan Optimisme Berjamaah

Hasto Suprayogo - Asian Games Jakarta

Ada gelombang besar nan tengah memabukkan segenap lapisan masyarakat kita. Gelombang optimisme. Yang tak lain dan tak bukan disebabkan oleh capaian para atlet Indonesia di kancah kompetisi olahraga terbesar di Asia, apalagi kalau bukan Asian Games ke 18 di Jakarta dan Palembang.

Target Kemenpora 16 emas dan peringkat 10 besar berhasil dilampaui para atlet kita. Bahkan per hari ini, sudah terkumpul 22 medali emas dari pelbagai cabang olah raga. Dengan sisa waktu seminggu lagi, tak diragukan raihan ini akan terus bertambah.

Saya melihat amat bagus efek psikologis yang ditimbulkan oleh capaian luar biasa ini. Optimisme publik meningkat pesat, kepercayaan diri pada bangsa dan kemampuan anak negeri membumbung tinggi. Kita tak hanya bercita jadi macan Asia, tapi kita nyata menuju ke sana lewat prestasi olah raga.

Saya yang jauh di negeri orang sering senyum-senyum sendiri saat membaca berita hasil pertandingan Asian Games. Saya bisa bayangkan betapa suka rianya kawan-kawan semua yang ada di sana langsung menyaksikan aksinya.

Ini adalah momentum bagus bagi bangsa Indonesia. Momentum untuk bangkit dan berjuang di bidang-bidang lain. Momentum untuk bangun dan berubah menjadi lebih baik. Momentum untuk bersatu demi masa depan bersama.

Mumpung kita semua dijangkiti virus optimisme, mumpung sentimen nasionalisme kita sedang naik ke ibun-ubun, mari tindaklanjuti dengan aksi nyata berupa karya. Di segenap bidang yang kita bisa.

Yang jadi pengusaha berbisnislah dengan lebih baik. Yang bekerja lakukanlah jobdesknya lebih baik. Yang jadi aparat layanilah publik lebih baik. Yang jadi politisi kurangilah perilaku busuk kalian. Yang jadi publik dan netizen berhentilah nyinyir dan saling menghujat.

Bangsa kita beruntung diberi momen macam Asian Games ini. Bukan semata karena kesempatan meraih prestasi olah raga, namun ini adalah kesempatan untuk kembali bersatu dan maju bersama menyongsong masa depan.

So, mumpung optimisme berjamaah ini merasuki kita semua, ayo bergandengan tangan dan maju lewat karya.

Tabik!