Slamet dan Patok Makam Terpenggal

Makam Albertus Slamet Suagiardi

Namanya Slamet, namun sayang nasibnya tak beruntung. Pria paruh baya warga Kelurahan Purbayan Kotagede Yogyakarta ini meninggal lantaran tersedak makanan. Tidak berhenti sampai di situ, nasib malang berlanjut bahkan selepas yang bersangkutan dimakamkam.

Kebetulan Slamet seorang Katolik. Dan layaknya umat agama tersebut, patok makamnya berupa tanda salib. Namun, saat akan dimakamkan, warga sekitar tempat penguburan menolak patok tersebut ditancapkan. Mereka bahkan menggergaji patok tanda peristirahatan terakhir Slamet sehingga bentuknya mirip huruf T.

Kabarnya, pemotongan tadi atas persetujuan keluarga korban. Alasannya ada penolakan warga atas pemakaman almarhum. Sebabnya menurut seorang tokoh warga karena kompleks makam tersebut adalah pemakaman muslim, sementara Slamet bukan. Meski kemudian ada bantahan dari Ketua RT setempat bahwa pemakaman tersebut adalah kompleks umum.

Anda kaget? Anda shock? Anda tercengang tak percaya?

Well, ini bukan fiksi di negeri pararel entah berantah. Ini nyata terjadi di Yogyakarta.

Apa yang bisa dipetik dari kejadian memalukan itu?

Pertama bahwa pandangan eksklusifitas itu ada dan nyata. Dipegang, dipercaya dan dieksekusi nyata oleh sebagian saudara sebangsa kita.

Kedua intoleransi itu nyata dan kadang tak disadari oleh pelakunya. Sebagaimana klaim sang tokoh warga yang menyebut mereka toleran, buktinya mereka mengijinkan Slamet dimakamkam bahkan membantu proses pemakaman. Mereka lupa, bahwa tindakan menggergaji patok makam lantaran perbedaan agama menyibak borok hipokritas yang ada.

Ketiga hegemoni dan represi mayoritas itu nyata. Sebagaimana klaim ‘persetujuan’ keluarga korban atas pemotongan yang dibuktikan dengan pernyataan tertulis istri almarhum. Warga nampaknya alpa keluarga korban adalah minoritas, 1 dari 3 keluarga minoritas di antara ratusan warga mayoritas. Mereka sedang berduka dan terpaksa atau dipaksa menerima perlakuan macam itu.

Bagi yang tak pernah hidup dan tinggal di suatu kawasan sebagai minoritas mungkin tak akan paham. Bagaimana rasanya hidup dalam bayang-bayang ketakutan. Bagaimana musti merepresi diri sendiri, mengikuti kemauan mayoritas, atas nama menjaga harmoni.

Keempat negara dan pemerintah dalam kasus ini gagal menjaga hak serta martabat warganya. Akan lebih gagal lagi jika tidak ada tindak lanjut mengatasi masalah ini.

Kelima, perbuatan ini bisa dibilang penistaan agama. Apa sebab? Patok berbentuk salib adalah simbol agama yang resmi diakui tak hanya oleh negara namun juga dunia. Penggergajiannya sama saja menistakan simbol agama tersebut. Bayangkan bagaimana marah, terluka dan terhinanya saudara-saudara kita yang mengimaninya?

Slamet menambah daftar panjang praktek intoleransi di negeri ini. Slamet mungkin sudah dimakamkan, keluarganya mungkin sudah merelakan, istri dan anaknya mungkin sudah memaafkan, namun hal itu tidak menjadikan masalah ini selesai begitu saja.

Ada PR besar bangsa kita. PR tentang toleransi. PR tentang inklusifisme. Ada tantangan besar bangsa kita. Tantangan bernama intoleransi. Tantangan berupa eksklusifisme.

Jangan sampai ada Slamet Slamet yang lain. Jangan sampai hal memalukan macam ini mengoyak lagi benang-benang kebangsaan kita. Jika tidak, bisa-bisa ramalan Indonesia punah terwujud nyata.

Tabik!

Menolak Poligami Tidak Sama Dengan Menolak Islam

Adalah pernyataan politik Grace Natalie, Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia yang menyebut pihaknya jika lolos ke Senayan akan memperjuangkan larangan poligami bagi pejabat publik—eksekutif, legislatif dan yudikatif—serta aparat sipil negara.

Sontak banyak pihak melayangkan kritik. Mulai dari sesama politisi, tokoh agama hingga warga biasa. Namun di saat bersamaan, tak sedikit pula yang mendukung sikap tegas ini. Komnas Perempuan salah satunya.

Bagi para pengkritiknya, penolakan PSI atas poligami ini lazim disamakan dengan penolakan atas praktek agama Islam. Bahkan tak sedikit yang menarik terlalu jauh dengan menyamakan penolakan poligami sebagai penolakan atas agama itu sendiri. Yang dalam pada ini adalah sesat pikir.

Agama Islam terlalu luas dimensinya untuk hanya direduksi sebagai perkara poligami semata. Praktek ini pun dalam Islam masih jadi polemik, dengan gradasi varian luas dari yang setuju, tidak setuju, tidak bersikap, mendukung, menolak, menganjurkan hingga mengharamkan. Juga, poligami bukan praktek yang eksklusif ada di Islam. So, penolakan atasnya mustinya tidak disikapi secara gegabah sebagai penolakan atas Islam itu sendiri.

Saya melihat penolakan PSI sebagai wacana politik yang bagus di Indonesia. Apalagi mereka membasiskannya pada argumen bahwa praktek poligami dalam banyak kasus berujung pada kekerasan terhadap perempuan serta perceraian. Setidaknya demikian data yang mereka ajukan sebagai justifikasi.

Dan sebagai wacana, tidak ada yang musti terlalu dikhawatirkan. Sebagaimana juga banyak wacana kontranya di luar sana. Partai politik lain yang kadernya disarankan berpoligami pun ada. Gerakan pro poligami pun bebas memamerkan ‘percapaiannya’ bahkan.

Ujung-ujungnya, publik pemilih yang akan menentukan. Apakah jualan wacana pro atau kontra poligami yang lebih diminati. Jika mereka terpilih, artinya wacana tersebut sesuai keinginan publik. Jika tidak, mereka akan tersingkir dengan sendirinya. Mekanisme demokrasi akan menjadi wasitnya.

Satu hal yang ingin kembali saya tegaskan, Anda boleh punya preferensi apapun tentang isu apapun di dunia. Anda boleh setuju atau tidak dengan wacana ideologis atau praksis apapun dari politisi. Dan Anda pun bebas punya tafsiran atas agama yang dianut.

Yang tak sepatutnya dilakukan adalah menjadikan tafsir Anda satu-satunya filter kebenaran saat menilai orang lain. Dan jika orang lain tak sepaham dengan Anda, bukan berarti dia anti agama Anda.

Tabik!

Kenapa Menolak Politik Agama?

Politik Agama

Mungkin sebagian Anda bertanya, kenapa begitu banyak reaksi negatif terhadap acara reuni 212 di ibukota beberapa waktu lalu? Mungkin bagi kawan-kawan yang mendukung acara tersebut, tidak habis pikir bagaimana reaksi negatif tersebut, atau bahkan sampai titik penolakan, bisa datang dari penganut agama yang sama.

Saya ingin berbagi pandangan di balik penolakan tersebut. Ini hanya sekelumit hasil pengamatan saya, dan pastinya tidak akan mampu menjabarkan keseluruhan pandangan yang ada. Namun, ijinkan saya mencobanya.

Dasar utama penolakan acara tadi adalah pandangan bahwa acara tersebut bukanlah acara keagamaan, melainkan acara politik. Mengapa demikian? Jika dirunut, pandangan ini tidak salah, karena acara reuni merupakan kelanjutan gerakan politik sebelumnya yang dilakukan sebagian masyarakat untuk melengserkan Gubernur DKI saat itu. Juga karena acara reuni tadi digawangi dan dihadiri begitu banyak aktifis dan tokoh politik nasional.

Point berikutnya adalah, adanya pandangan sebagian besar umat muslim kita bahwa agama semestinya dijaga marwahnya sebagai ajaran moral. Agama, termasuk simbol-simbolnya, musti dijaga kesuciannya. Salah satunya dengan tidak menggunakannya dalam praktek-praktek politik yang cenderung kotor.

Kenapa bisa dibilang kotor? Karena secara esensial, politik adalah segala aktifitas, aksi atau policy yang dilakukan untuk meraih atau mempertahankan kekuasaan. Tujuan akhir politik adalah kekuasaan. Dan bagi banyak penganut agama, amatlah buruk nilainya menggunakan agama dengan segala simbolnya semata-mata untuk meraih dan atau mempertahankan kekuasaan dunia.

Ada idealisme sekaligus moralitas yang coba diwujudkan di sini. Menjaga kesucian agama, sekaligus menghindarkannya dari komodifikasi para pengejar kekuasaan semata.

Apakah hal tersebut salah? Saya pikir tidak. Saya termasuk yang percaya akan idealisme tersebut. Bahwa agama musti dijaga marwahnya, ditempatkan sebagai beacon moralitas sekaligus dijaga dari eksploitasi oleh para pengejar kekuasaan.

Mungkin Anda tidak berbagi idealisme serupa. Tidak apa-apa. Mungkin Anda percaya bahwa agama harus dipraktekkan secara menyeluruh, termasuk dalam politik. Boleh saja. Tapi ingat, kekuasaan itu punya tendensi mengorupsi mental dan moralitas pengejarnya.

Mungkin Anda bilang politik agama itu perlu dilakukan untuk melindungi umat atau untuk mewujudkan nilai-nilai luhur yang diajarkan Rasul. Well, pertanyaannya adalah, apakah hanya dengan mempolitisasi agama hal tersebut baru bisa dilakukan? Ataukah tanpa politisasi agama hal serupa juga bisa, sedang atau sudah terwujud?

Atau, pernahkah terbersit sekali saja, bahwa kalau mau jujur mengakui, alasan utama mempolitisasi agama adalah kemudahannya untuk meraih kekuasaan itu sendiri? As simple as that. Coba tanyakan pada batin dan nurani Anda. Jika iya, cukup akui itu dalam hati tak perlu Anda ucapkan di sini.

Satu point terakhir yang ingin saya sampaikan, bagi kami yang menolak politisasi agama, ketahuilah bahwa dasar pemikiran kami adalah demi menjaga marwah dan posisi mulia agama itu sendiri. Jika Anda berbagi kepedulian sama untuk melindungi agama, maka Anda pun akan turut serta menolak politisasi terhadapnya.

Tabik!

Awas Jebakan Confirmation Bias

confirmation bias

Banyak dari kita mempraktekkan confirmation bias, sadar atau tidak. Di mana kita punya tendensi, atau kecenderungan, untuk mencari, menginterpretasi, memilih atau me-recall informasi yang sesuai atau mengkonfirmasi hal yang sudah kita percaya sebelumnya.

Bahasa simpel-nya, kita mengambil apa yang sesuai dengan kepercayaan kita, dan membuang lainnya, terutama yang berseberangan. Jika Anda sering berinteraksi dengan orang lain, khususnya mereka yang aktif mengikuti perkembangan politik tanah air, atau aktif berpolitik bahkan, maka Anda akan dengan mudah temukan contohnya.

Kebenaran informasi bagi mereka yang terjebak dalam confirmation bias tidaklah penting. Bahkan jika mereka menggunakan data sebagai sumber informasi, tidak penting validitasnya. Fakta bukanlah hal yang utama pula, karena sekali lagi, yang dipilah adalah informasi, data atau fakta yang sesuai dengan kepercayaannya. Lainnya disingkirkan.

Mau contohnya? Sekelompok orang ‘percaya’ bahwa kepala negara kita keturunan anggota partai terlarang, keturunan etnis minoritas, dan sejenisnya. Mereka membasiskan kepercayaan itu pada informasi entah dari mana, yang validitasnya dipertanyakan. Bahkan, ketika disodorkan informasi, data dan fakta yang jelas dan nyata membantahnya, mereka masih saja percaya demikian.

Ada lagi, sekelompok orang lain percaya bahwa umat agama mayoritas di tanah air ditindas penguasa. Para ulamanya dipersekusi bahkan dikriminalisasi. Sehingga karenanya, mereka butuh bangkit untuk melawan pemerintah. Apa dasarnya, well jangan tertawa jika saya bilang salah satu dasarnya adalah ‘kepercayaan’ di atas bahwa kepala pemerintahan kita keturunan atau simpatisan partai terlarang.

Dan sekali lagi, meski telah ditunjukkan informasi, data dan fakta yang membantah semua tuduhan tadi, masih saja mereka keukeuh dengan kepercayaannya.

Confirmation bias ini bersilangsengkarut dengan efek echo chamber, di mana seorang mempunyai kecenderungan mencari informasi dan mengafirmasi kebenarannya dari kelompoknya sendiri. Sehingga yang terjadi adalah amplifikasi kepercayaan yang bias tadi.

Ngeri bukan?

Karenanya amat sangat penting untuk tidak menerima mentah-mentah informasi apa saja dari siapa saja, terutama kelompok sendiri, tanpa melakukan cek dan ricek. Karenanya penting untuk mengkritisi informasi yang diterima, mencari tau sumber asalnya, kredibilitas pembuat dan penyampainya, mengkroscek dengan sumber informasi lain, sehingga meminimalisir confirmation bias tadi.

Karena apa? Karena pada akhirnya, confirmation bias kita tak hanya merugikan orang atau pihak lain yang terdiskriminasi olehnya, namun juga kita sendiri. Confirmation bias menjadikan kita tidak bisa melihat dunia dan realita secara fair dan proporsional. Confirmation bias menjadikan hidup kita penuh syak wasangka. Penuh ketakutan, penuh kekhawatiran dan penuh permusuhan.

Coba buka mata dan pikiran pada informasi, data dan fakta yang lain, yang belum tentu sesuai prekonsepsi kebenaran kita. Karena hanya dengan membuka diri macam ini, kita berkesempatan menemukan kebenaran yang sebenarnya.

Tabik!

Self-righteousness Karena Agama

Self-righteousness

Saya temukan fenomena menarik dari banyak kawan yang ‘menemukan kembali’ agama. Kawan-kawan yang dulunya ‘nakal’, namun kemudian di pertengahan jalan mendapatkan pencerahan, dan kembali ke jalan yang benar. Tak sedikit dari mereka tiba-tiba menampilkan tendensi self-righteousness.

Apa yang saya maksud self-righteousness? Tak lain tak bukan adalah kecenderungan untuk merasa dan menampilkan diri lebih superior dibanding yang lain, karena menganggap kepercayaan, aktifitas dan atau afiliasi kelompoknya paling benar dibanding yang lain. Atau kata anak Jakarta, mereka jadi songong.

Kecenderungan untuk merasa lebih baik, terkadang sampai titik yang menjengkelkan, sering dibarengi dengan semangat mendakwahkan kebenaran–tentunya versi yang dipercayanya. Segala apa yang baru didengarnya dalam pengajian disampaikan ke orang lain. Kadang tak melihat konteks, waktu atau tempat.

Sering ada juga kecenderungan untuk menilai bahkan menghakimi orang lain berdasarkan pandangan kebenarannya tersebut. Juga sedikit-sedikit mengaitkan perbincangan dengan dalil agama yang dihapalnya–atau di-Googlingnya.

Nah, kondisi macam ini diperparah lagi dengan kondisi politik belakangan. Yaitu maraknya praktek politik identitas, salah satunya dengan penggunaan agama sebagai jualan politik para elit. Kawan-kawan saya tadi banyak yang terseret masuk dalam gerakan politik agama. Bukan karena pengusung politik agama menawarkan program, agenda atau konsep yang lebih baik, namun hanya karena kesamaan sentimen agamanya semata.

Dan sekali lagi, tendensi self-righteousness tadi ikut-ikutan mereka bawa dalam berpolitik. Menganggap kelompok politik agama yang didukungnya adalah paling benar, sementara lainnya adalah salah, sesat atau bahkan sering kita dengar istilah kafir atau setan.

Betapa ngerinya hal ini. Bagaimana sesuatu yang awalnya baik–penemuan kembali nilai agama–berubah 180 derajat menjadi hal yang jauh dari nilai-nilai moral agama itu sendiri, macam kerendahan hati, prasangka baik dan persaudaraan.

Saran saya, jika Anda temui kawan-kawan macam ini, lebih baik dihindari. Kalau pun terpaksa berinteraksi, coba untuk tak perlu terlalu diambil hati. Tetap gunakan akal sehat, tetap pakai logika dan tetap berpikir terbuka.

Tabik!

Agama, Gaya Hidup Atau Jalan Hidup

jalan hidup

Membaca sebuah cuitan seorang tokoh menyentakkan saya. Dia menyayangkan kecenderungan sebagian umat Islam tanah air yang mengusung agamanya lebih sebagai gaya hidup, dan bukan jalan hidup.

Agama sebagai gaya hidup ya sesuai namanya, hanya sebagai gaya semata. Layaknya gaya hidup lain, ada trend di sana. Ada penekanan pada tampilan, visualisasi, bentuk luar, kulit dan tanda serta penanda.

Ketika semua atribut eksterior ini diadopsi, maka sah-lah seorang mengkalim diri telah beragama dengan benar. Atribut eksoteris macam ini kemudian dilihat orang lain, diafirmasi sesamanya dan nampaknya itu cukup baginya.

Lalu bagaimana dengan sisi interiornya? Bagaimana dengan esoteris religiusnya? Bagaimana dengan jiwa dan mentalnya?

Well, banyak yang menafikkan, karena sisi ini tidak terlihat, sisi ini tidak nampak dan tidak bisa dilihat orang lain. Karenanya tak terlalu penting.

Bagaimana dengan pendekatan satunya, agama sebagai jalan hidup? Di sini, tampilan, atribut, tanda dan penanda ‘agama’ bukan yang utama. Namun esensi moral, mental dan penyucian jiwa menjadi prioritas.

Menjadi umat yang baik dalam kacamata pandang ini artinya menjalani hidup dengan cara yang baik, lewat ucapan yang baik, hubungan dengan manusia lain dan segenap alam yang baik, dan pastinya tidak secara pongah mengklaim diri lebih baik dari yang lain.

Tengoklah para kyai kampung, yang hidupnya sederhana, yang tampilannya tak seberapa, yang ketika berbicara atau mengisi acara terasa hangat dan menentramkan. Ada korelasi antara ajaran dengan praktek kehidupan dalam dirinya.

Gaya hidup adalah tren yang amat mungkin berganti. Apa yang tendi sekarang, bisa jadi tak lagi trendi beberapa waktu mendatang. Apa jadinya jika agama dipahami sebagai tren?

Apakah kecenderungan ini yang dulu sempat diwanti-wanti Kanjeng Nabi sebagai umatnya yang banyak namun seperti buih lautan?

Bisa jadi demikian adanya. Bisa jadi ini adalah bahan renungan kita bersama. Untuk lebih menjadikan agama sebagai jalan hidup dan bukan gaya semata.

Tabik!

Bahar Smith, Antara Kritik atau Caci Maki

bahar smith

Adakah yang salah dengan kritik? Adakah yang salah jika yang dikritik penguasa? Tidak dan tidak sama sekali. Tapi akan salah jika yang disampaikan bukanlah kritik melainkan caci maki.

Apa beda kritik dan caci maki?

Menurut saya, kritik bersandar pada fakta, disampaikan menggunakan logika dan ditujukan untuk membenahi subyek yang dikritiknya.

Sedang caci maki, lebih berisi ungkapan tidak suka, seringnya tendensius, emosional dan menafikkan fakta serta nirlogika.

Saya selalu salut dengan mereka yang tegak berdiri dan lantang menyuarakan kritik pada penguasa. Dibutuhkan kecerdasan untuk merangkai kritik, keberanian untuk menyuarakan ketidaksetujuan dan keteguhan hati menahan konsekuensi yang mungkin datang.

Sayang sekali, tak semua orang paham beda kritik dan caci maki. Lebih parah lagi, caci maki sering disuarakan dalam mimbar berlabel acara keagamaan. Jauh lebih mengerikan, ada saja telinga-telinga yang mau mendengarkan dan bahkan memberi dukungan.

Bangsa ini nampaknya masih punya PR besar mendidikan anak-anaknya untuk bisa membedakan kritik dari caci maki. Kita bersama punya PR besar mendidik bangsa kita untuk bisa menyuarakan kritik secara logis dan berlandas fakta, dan menghindari terjebak caci maki berselimut emosi dan kebencian semata.

PR kita banyak, PR kita panjang, namun justru itu bisa kita jadikan agenda bersama untuk diwujudkan. Demi kita semua, demi Indonesia.

Tabik!