Iklan Blackpink dan Moral Panic Sebagian Kita

Iklan Shopee Blackpink

Empat hari lalu Maimon Herawati membuat petisi untuk memboikot layanan e-commerce Shopee. Apa pasalnya? Tak lain karena perempuan yang kabarnya adalah dosen jurnalistik sebuah universitas negeri di Bandung itu menganggap iklan Shopee edisi ulang tahun tidak senonoh.

Dalam unggahan petisinya di Change.org, Maimon menyebut bintang iklan yang dipakai, Blackpink, berpenampilan seronok dan mengumbar aurat. Kalau disimak, dalam iklannya, keempat personil girl band Korea ini mengenakan rok pendek di atas lutut.

Lebih lanjut, Maimon menyebut iklan tadi provokatif dan tidak sesuai dengan norma Pancasila. Dia menyebut efek buruk iklan tadi terhadap mental dan moral anak-anak yang kebetulan menyaksikannya, karena menurutnya iklan tadi sempat tayang di antara jam pemutaran film kartun anak.

Petisi tersebut sejauh ini ditandatangani tak kurang 105 ribu orang. Komisi Penyiaran Indonesia kabarnya juga ikut menindaklanjuti dengan mengirimkan surat peringatan terhadap stasiun-stasiun televisi yang menayangkannya.

Saya melihat kasus ini sebagai contoh moral panic sebagian masyarakat kita. Moral panic adalah perasaan takut atau panik yang menjangkiti sebagian orang atas adanya hal jahat yang mengancam tatanan masyarakat.

Moral panic ini mensyaratkan adanya kondisi, situasi, orang atau sekelompok orang yang dipandang melanggar atau melawan nilai-nilai sosial. Dalam kasus ini, Shopee dengan Blackpink-nya yang jadi sasaran. Mereka dianggap sebagai folk evil yang musti dilawan oleh Ibu Maimon dan para pendukungnya.

Moralitas menjadi pembenar aksi boikot yang digalang. Perlindungan terhadap mental dan kepentingan anak menjadi misi yang dikobarkan. Media massa pun menyambar isu ini, menjadikannya bahan berita untuk menarik pembaca.

Saya tidak membela Shopee dengan iklannya atau mendukung penggagas petisi boikot. Saya percaya bahwa perkara moralitas dan pendidikannya pada anak adalah tanggungjawab orang tua dan keluarga. Bukan tanggung jawab orang lain, apalagi pelaku bisnis.

Menuntut pelaku bisnis turut menjaga moralitas dan memberi pengajaran sopan santun, etika dan semacamnya pada anak dan remaja adalah hal tidak tepat atau layak disebut absurd.

Juga, kita tidak bisa menggunakan standar moralitas pribadi untuk menilai apa yang pantas dan tidak pantas bagi publik. Moral panic macam kasus di atas umumnya berlandaskan tafsir nilai moral pribadi, yang dikampanyekan layaknya hal tersebut adalah kepentingan bersama. Sementara keberagaman publik kita menunjukkan keragaman tafsir moralitas juga.

So, ujung katanya adalah, benahi diri sendiri, lindungi anak sendiri, gunakan standar moralitas untuk diri sendiri dan jangan gampang merengek ketika di luar sana moralitas kita tidak sesuai dengan pemahaman pihak lain.

Tabik!

Memori Masa Belia

Ayah dan Anak

Hal apa yang paling Anda ingat dari masa belia? Hal apa yang Anda catat sebagai kenangan masa kecil bersama orang tua?

Bagi saya, memori itu adalah dibonceng naik motor ke pasar oleh almarhum Bapak untuk kemudian mampir ke sebuah warung makan sederhana di seberangnya lalu menikmati sepiring nasi berlauk mangutan pedas.

Tentu masih banyak kepingan-kepingan kenangan lain. Baik yang menyenangkan maupun yang tak terlalu menyenangkan. Terkadang saya me-recall potongan memori itu dan memutarnya di kepala. Sekedar penghibur di kala sepi melanda.

Saya percaya bagi seorang anak, memori bersama orang tua amat berharga. Hal-hal kecil yang dilakukan bersama mungkin akan terpatri selamanya. Karenanya, saya pikir penting bagi kita para orang tua meluangkan lebih banyak waktu, membuka mata dan mencurahkan perhatian lebih saat bersama anak-anak kita.

Memori masa belia membentuk diri kita. Memori belia pula yang jadi refleksi dan kadang sandaran saat kita dewasa. Dia jadi obat rindu sekaligus penyemangat untuk terus maju menjalani hidup yang tak bersahabat seringnya.

Jika Anda ada waktu, tanyakan memori apa yang sudah dan sedang Anda ukir di benak anak-anak Anda?

Tabik!