Menolak Poligami Tidak Sama Dengan Menolak Islam

Adalah pernyataan politik Grace Natalie, Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia yang menyebut pihaknya jika lolos ke Senayan akan memperjuangkan larangan poligami bagi pejabat publik—eksekutif, legislatif dan yudikatif—serta aparat sipil negara.

Sontak banyak pihak melayangkan kritik. Mulai dari sesama politisi, tokoh agama hingga warga biasa. Namun di saat bersamaan, tak sedikit pula yang mendukung sikap tegas ini. Komnas Perempuan salah satunya.

Bagi para pengkritiknya, penolakan PSI atas poligami ini lazim disamakan dengan penolakan atas praktek agama Islam. Bahkan tak sedikit yang menarik terlalu jauh dengan menyamakan penolakan poligami sebagai penolakan atas agama itu sendiri. Yang dalam pada ini adalah sesat pikir.

Agama Islam terlalu luas dimensinya untuk hanya direduksi sebagai perkara poligami semata. Praktek ini pun dalam Islam masih jadi polemik, dengan gradasi varian luas dari yang setuju, tidak setuju, tidak bersikap, mendukung, menolak, menganjurkan hingga mengharamkan. Juga, poligami bukan praktek yang eksklusif ada di Islam. So, penolakan atasnya mustinya tidak disikapi secara gegabah sebagai penolakan atas Islam itu sendiri.

Saya melihat penolakan PSI sebagai wacana politik yang bagus di Indonesia. Apalagi mereka membasiskannya pada argumen bahwa praktek poligami dalam banyak kasus berujung pada kekerasan terhadap perempuan serta perceraian. Setidaknya demikian data yang mereka ajukan sebagai justifikasi.

Dan sebagai wacana, tidak ada yang musti terlalu dikhawatirkan. Sebagaimana juga banyak wacana kontranya di luar sana. Partai politik lain yang kadernya disarankan berpoligami pun ada. Gerakan pro poligami pun bebas memamerkan ‘percapaiannya’ bahkan.

Ujung-ujungnya, publik pemilih yang akan menentukan. Apakah jualan wacana pro atau kontra poligami yang lebih diminati. Jika mereka terpilih, artinya wacana tersebut sesuai keinginan publik. Jika tidak, mereka akan tersingkir dengan sendirinya. Mekanisme demokrasi akan menjadi wasitnya.

Satu hal yang ingin kembali saya tegaskan, Anda boleh punya preferensi apapun tentang isu apapun di dunia. Anda boleh setuju atau tidak dengan wacana ideologis atau praksis apapun dari politisi. Dan Anda pun bebas punya tafsiran atas agama yang dianut.

Yang tak sepatutnya dilakukan adalah menjadikan tafsir Anda satu-satunya filter kebenaran saat menilai orang lain. Dan jika orang lain tak sepaham dengan Anda, bukan berarti dia anti agama Anda.

Tabik!