Anjing dan Dilemanya

anjing dan pemiliknya di Inggris

Dulu saya tidak pernah berinteraksi dengan hewan satu ini. Namun selama di negeri ini, mau tak mau, anjing jadi salah satu hewan yang relatif saya akrabi.

Bagaimana tidak, hampir setiap hari, di hampir setiap tempat yang saya sambangi, ada anjing. Dari yang kecil nan lucu macam pug, hingga yang begal nan seram tampilannya macam bulldog. Dari yang fungsinya melengkapi tampilan fashion pemiliknya—macam poodle—hingga pemandu kaum difabel dengan keterbatasan penglihatan macam Golden Retrievers.

Sebagian mereka ramah, kadang terlalu ramah bahkan. Mereka akan melompat ke arah kita seakan minta dipeluk. Kadang, saya mengusap kepalanya. Dan mereka akan membalasanya dengan endusan sayang—well, setidaknya itu yang saya tangkap.

Tapi, sekali lagi, ada dilema di sini. Sebagai muslim, saya pun punya sedikit pretensi negatif ke anjing. Bukan karena mereka menjijikkan atau berbahaya, namun kerepotan yang ditimbulkannya apabila bersentuhan apalagi terpapar liurnya. Ya, bagi mayoritas muslim, liur anjing termasuk kategori najis.

Tapi point menarik lain yang saya temukan adalah, hewan satu ini memang setia. Amat setia bahkan. Utamanya pada majikan yang memeliharanya. Dan saya temukan ada relasi resiprokal antar keduanya.

Beberapa warga lokal pemilik anjing yang saya kenal bahkan menyatakan lebih sayang dan khawatir dengan anjingnya daripada—maaf—anak mereka yang sudah dewasa. Posisi anjing di keluarga mereka tak kalah, bahkan sering lebih utama dari darah daging.

Mungkin, kalau boleh saya menduga, tak lepas dari kultur individualistik di sini. Di mana relasi antar manusia tak seerat masyarakat komunal macam kita, sementara ada kebutuhan naluriah akan hubungan afektif dari yang lain. Ruang ini, nampaknya, bagi banyak pemilik anjing, diisi hewan berkaki empat tersebut.

Jadi wajar kalau ada ungkapan di sini, dog is a man’s best friend. Ohya, di luar semua hal positif soal anjing, ada yang menjengkelkan. Yaitu ketika anjing yang diajak jalan majikannya buang hajat dan kotorannya berlepotan di jalan. Meski ada aturan majikan wajib mengambil kotoran anjingnya, namun tak sedikit yang cuek meninggalkannya jadi ranjau biologis yang menjengkelkan jika terinjak.

Tabik!

Kota Ramah Pejalan Kaki & Sepeda

sepeda di Inggris

Kapan kota-kota kita ramah terhadap pejalan kaki dan sepeda?

Pertanyaan itu beberapa kali terbersit dalam benak saya. Satu dua mungkin sudah ada kemajuan. Sebut Surabaya dengan trotoar nyamannya, atau mungkin Bandung dengan inisiatif bike sharingnya.

Kota-kota lain? Entah kapan bakal ikut serta. Ohya, kabarnya trotoar Jakarta sudah jauh lebih baik—setidaknya di beberapa sudut paska Asian Games. Setidaknya ada progress tho?

Anyway, salah satu indikator sebuah kota nyaman dihuni adalah ramahnya fasilitas umum bagi pejalan kaki dan pengayuh sepeda. Di mana kita bisa leluasa menyusuri trotoar tanpa khawatir terhadang pedagang kaki lima, terjerembab masuk lubang galian atau terserempet motor yang ugal-ugalan.

Ada gabungan antara keberadaan fasilitas trotoar—dan lajur sepeda—dengan kepatuhan aturan lalu lintas dus penegakannya. Di Indonesia, keduanya masih kurang diperhatikan. Entah tak paham, atau kita cenderung malas-malasan.

Padahal, kalau mau dilakukan, kota-kota kita bisa lebih ramah bagi penghuninya. Kotanya ramah, warganya pun akan cenderung lebih ramah. Yuk kita benahi bersama kota kita.

Tabik!

Transportasi Publik Tepat Waktu

Hasto Suprayogo - Bus Bournemouth

Satu hal positif dari hidup di negeri ini adalah transportasi publiknya yang tepat waktu. Khususnya moda angkutan bus. Di kota tempat saya tinggal, setidaknya ada 2 armada bus utama dalam kota. Yellow bus yang tampilannya sesuai namanya, berwarna kuning dan More bus yang berwarna biru merah.

Di luar soal tampilan luar, keduanya melayani jalur yang hampir serupa. Harga tiketnya pun sama, begitu pula jam operasionalnya.

Kedua armada dioperasikan oleh perusahaan swasta. Meski dulunya, Yellow Bus adalah perusahaan milik pemerintah lokal Bournemouth, persaingan bisnis dan tuntutan jaman membuatnya musti dilego ke swasta.

Kembali soal ketepatan waktu, saya menyebut hal ini sebagai keunggulan utamanya. Bus datang tepat waktu, sampai tujuan pun tepat waktu. Tentunya bagi kami para pekerja, hal ini sangat membantu.

Tak ada cerita bus ngetem melewati batas waktu yang dijadwalkan. Kalau kita telat alamat ditinggal bablas. Bagus untuk melatih diri tepat waktu juga.

Saya menyimpan harapan, saat nanti kembali ke tanah air, akan menemui layanan transportasi publik yang tepat waktu juga.

Semoga.