Pete Thailand dan Indomie

Pete Thailand

Beberapa waktu lalu saya mampir ke toko makanan Asia. Maklum, stok beras menipis, begitu juga Indomie. Semua barang yang dibutuhkan sudah masuk keranjang belanja, ketika saya temukan barang satu ini.

Pete, ya pete. Bukan, saya bukan penggemar makanan beraroma khas ini, namun saya cukup kaget menemukannya di sini. Yang lebih mengagetkan adalah, pete tadi produk Thailand.

Rasa penasaran saya bertambah. Jangan-jangan masih banyak lagi produk Thailand di sini. Dan benar adanya, hampir sebagian besar produk bahan makanan mentah maupun kemasan di toko ini, yang khas Asia Tenggara, adalah produk Thailand.

Mulai beras, sayur macam pokchoi, kangkung, aneka bumbu masak seperti lengkuas dan kunir, hingga daun pisang pun asal negeri Gajah Putih tersebut.

Saya lalu mencoba mencari pembandingnya. Adakah produk dari Indonesia yang dijual di toko ini? Pandangan saya tertumbuk pada jejeran bumbu masak kemasan di salah satu rak. Ada bumbu rendang juga opor. Nah ini pasti produk Indonesia, seru saya dalam hati.

Namun saat saya baca labelnya, darn, maki saya. Produk Singapura ternyata. Bahkan sambal bajak dalam botol di sebelahnya pun produk negeri Singa.

Wait, wait pasti ada produk Indonesia di sini. Ah, tempe. Pasti tempe produk kita. Saya ambil dari tumpukan di freezer untuk kemudian kembali kecewa. Tempe di sini dibuat di Belanda.

Akhirnya, saya melangkah lesu menuju rak mie instan. Saya tahu pasti, kalau ada produk Indonesia di sana. Apalagi kalau bukan Indomie. Ya, satu-satunya hal yang membuat saya temukan koneksi dengan tanah air adalah produk kesayangan penjual warkop ini.

Ada apa dengan kita? Ada kendala apa sehingga produk-produk negeri tetangga macam Thailand dan Singapura banyak beredar hingga sejauh ini, namun tidak produk negeri kita?

Saya belum temukan jawaban atas pertanyaan itu. Saya terburu pulang sembari membawa bungkusan pete di tangan. Terpikir menyandingkan pete dengan Indomie. Siapa tau bisa jadi ide jualan baru kelak saat pulang.

Tabik!

Anjing dan Dilemanya

anjing dan pemiliknya di Inggris

Dulu saya tidak pernah berinteraksi dengan hewan satu ini. Namun selama di negeri ini, mau tak mau, anjing jadi salah satu hewan yang relatif saya akrabi.

Bagaimana tidak, hampir setiap hari, di hampir setiap tempat yang saya sambangi, ada anjing. Dari yang kecil nan lucu macam pug, hingga yang begal nan seram tampilannya macam bulldog. Dari yang fungsinya melengkapi tampilan fashion pemiliknya—macam poodle—hingga pemandu kaum difabel dengan keterbatasan penglihatan macam Golden Retrievers.

Sebagian mereka ramah, kadang terlalu ramah bahkan. Mereka akan melompat ke arah kita seakan minta dipeluk. Kadang, saya mengusap kepalanya. Dan mereka akan membalasanya dengan endusan sayang—well, setidaknya itu yang saya tangkap.

Tapi, sekali lagi, ada dilema di sini. Sebagai muslim, saya pun punya sedikit pretensi negatif ke anjing. Bukan karena mereka menjijikkan atau berbahaya, namun kerepotan yang ditimbulkannya apabila bersentuhan apalagi terpapar liurnya. Ya, bagi mayoritas muslim, liur anjing termasuk kategori najis.

Tapi point menarik lain yang saya temukan adalah, hewan satu ini memang setia. Amat setia bahkan. Utamanya pada majikan yang memeliharanya. Dan saya temukan ada relasi resiprokal antar keduanya.

Beberapa warga lokal pemilik anjing yang saya kenal bahkan menyatakan lebih sayang dan khawatir dengan anjingnya daripada—maaf—anak mereka yang sudah dewasa. Posisi anjing di keluarga mereka tak kalah, bahkan sering lebih utama dari darah daging.

Mungkin, kalau boleh saya menduga, tak lepas dari kultur individualistik di sini. Di mana relasi antar manusia tak seerat masyarakat komunal macam kita, sementara ada kebutuhan naluriah akan hubungan afektif dari yang lain. Ruang ini, nampaknya, bagi banyak pemilik anjing, diisi hewan berkaki empat tersebut.

Jadi wajar kalau ada ungkapan di sini, dog is a man’s best friend. Ohya, di luar semua hal positif soal anjing, ada yang menjengkelkan. Yaitu ketika anjing yang diajak jalan majikannya buang hajat dan kotorannya berlepotan di jalan. Meski ada aturan majikan wajib mengambil kotoran anjingnya, namun tak sedikit yang cuek meninggalkannya jadi ranjau biologis yang menjengkelkan jika terinjak.

Tabik!

Kota Ramah Pejalan Kaki & Sepeda

sepeda di Inggris

Kapan kota-kota kita ramah terhadap pejalan kaki dan sepeda?

Pertanyaan itu beberapa kali terbersit dalam benak saya. Satu dua mungkin sudah ada kemajuan. Sebut Surabaya dengan trotoar nyamannya, atau mungkin Bandung dengan inisiatif bike sharingnya.

Kota-kota lain? Entah kapan bakal ikut serta. Ohya, kabarnya trotoar Jakarta sudah jauh lebih baik—setidaknya di beberapa sudut paska Asian Games. Setidaknya ada progress tho?

Anyway, salah satu indikator sebuah kota nyaman dihuni adalah ramahnya fasilitas umum bagi pejalan kaki dan pengayuh sepeda. Di mana kita bisa leluasa menyusuri trotoar tanpa khawatir terhadang pedagang kaki lima, terjerembab masuk lubang galian atau terserempet motor yang ugal-ugalan.

Ada gabungan antara keberadaan fasilitas trotoar—dan lajur sepeda—dengan kepatuhan aturan lalu lintas dus penegakannya. Di Indonesia, keduanya masih kurang diperhatikan. Entah tak paham, atau kita cenderung malas-malasan.

Padahal, kalau mau dilakukan, kota-kota kita bisa lebih ramah bagi penghuninya. Kotanya ramah, warganya pun akan cenderung lebih ramah. Yuk kita benahi bersama kota kita.

Tabik!

Buku dan Kebahagiaan

Koleksi Buku

Kebahagiaan kecil saya sejak berada di negeri ini adalah akses luar biasa ke banyak buku-buku yang amat susah didapat di tanah air. Semua berkat Amazon.

Tak hanya luar biasa lengkap katalognya—terutama untuk buku-buku kajian Indonesia—harganya pun relatif ok. Mau yang baru ada dengan harga lumayan, yang seken dengan harga murah meriah pun banyak.

Kadang satu buku bisa didapat cukup dengan merogoh kocek £1, itu sekitar 18 ribu rupiah. Bukan buku sembarangan pula. Bayangkan kalau di Indonesia musti ke Kinokuniya bisa kena berapa.

So far, keberadaan Amazon dengan koleksi dan kemudahan belinya, menghidupkan kembali cita-cita lawas saya untuk punya perpustakaan pribadi. Sedikit demi sedikit saya menumpuk buku-buku ini. Tinggal yang musti dipikirkan nantinya bagaimana membawa koleksi ini pulang ke tanah air.

Terima kasih Amazon.

Budaya Flat Cap Alias Topi Ceper Di Inggris

Flat Cap di Inggris

Masih soal penutup kepala, saya suka flat cap. Topi ceper dengan bagian depan rada maju ini umumnya terbuat dari kain woolen atau bisa juga katun. Topi macam ini sering disebut bunnet di Scotland atau Dai cap di Wales.

Kalau Anda bertanya gimana rasanya saat dipakai, well saya bilang nyaman. Selain nyaman, topi ceper ini ternyata punya sejarah lumayan panjang. Sudah ada sejak abad 14 ternyata, dan umumnya dipakai kelas pekerja, seperti pedagang, tukang dan sebagainya.

Namun dalam perkembangannya, topi ceper ini banyak diadopsi kelas atas, tentunya dengan pilihan bahan kain yang lebih baik. Bahkan, di kalangan akademisi ada tradisi penggunaan topi ceper—yang disebut Tudor bonnet—dalam penyematan gelar doktoral.

Flat cap kembali populer belakangan, terutama akibat tontonan layar kaca macam East Enders atau Peaky Blinders. Kalau Anda bosan dengan penutup kepala biasa, flat cap nampaknya menarik untuk dicoba.

Cheers mate!

Fashion Imigran dan Pesan Di Baliknya

Tutup Kepala Imigran

Saya suka penutup kepalanya. Pria sepuh ini, kemungkinan besar orang Asia. Mungkin asal India atau Pakistan.

Sangat menarik mengamati fashion orang-orang di jalan. Utamanya mereka para imigran. Bagaimana hal-hal kecil seperti headgear digunakan sebagai penanda identitas sekaligus penyampai pesan.

Pesannya apa? Silahkan coba didecode.

Tabik.

Transportasi Publik Tepat Waktu

Hasto Suprayogo - Bus Bournemouth

Satu hal positif dari hidup di negeri ini adalah transportasi publiknya yang tepat waktu. Khususnya moda angkutan bus. Di kota tempat saya tinggal, setidaknya ada 2 armada bus utama dalam kota. Yellow bus yang tampilannya sesuai namanya, berwarna kuning dan More bus yang berwarna biru merah.

Di luar soal tampilan luar, keduanya melayani jalur yang hampir serupa. Harga tiketnya pun sama, begitu pula jam operasionalnya.

Kedua armada dioperasikan oleh perusahaan swasta. Meski dulunya, Yellow Bus adalah perusahaan milik pemerintah lokal Bournemouth, persaingan bisnis dan tuntutan jaman membuatnya musti dilego ke swasta.

Kembali soal ketepatan waktu, saya menyebut hal ini sebagai keunggulan utamanya. Bus datang tepat waktu, sampai tujuan pun tepat waktu. Tentunya bagi kami para pekerja, hal ini sangat membantu.

Tak ada cerita bus ngetem melewati batas waktu yang dijadwalkan. Kalau kita telat alamat ditinggal bablas. Bagus untuk melatih diri tepat waktu juga.

Saya menyimpan harapan, saat nanti kembali ke tanah air, akan menemui layanan transportasi publik yang tepat waktu juga.

Semoga.