Gagal Memahami Konteks

Hasto Suprayogo - Gagal Memahami Konteks

Pidato Presiden Jokowi dalam perhelatan IMF-World Bank di Bali mengundang decak kagum banyak pihak. Tak kurang Sekjen PBB, Direktur IMF juga pimpinan Bank Dunia menyebut ajakan kolaborasi Jokowi dengan metafora Game of Thrones sebagai hal yang mengena.

Jokowi memang lincah dalam mengemas pidato-pidatonya dengan idiom-idiom populer yang menyentil. Jika diingat, sebelumnya Presiden ketujuh kita itu pernah menggunakan analogi Avengers dan Thanos dalam pidatonya.

Namun, jika di depan khalayak internasional, idiom populer Jokowi tentang Game of Thrones menemukan resonansinya, hal sebaliknya di tanah air.

Upaya Jokowi menyampaikan perlunya kerjasama internasional, bahaya perang dagang dan perebutan hegemoni geopolitik antar negara adikuasa lewat idiom serial tv tersebut justru diserang oleh berbagai pihak di Indonesia. Tentunya kubu oposisi menjadi yang terdepan.

Saya tidak akan berkomentar jika hanya pihak politisi oposisi yang menyerang. Adalah wajar mereka lakukan dalam tahun politik macam sekarang.

Namun, banyak pihak lain, publik awam yang turut menyerang penggunaan idiom tadi. Bahkan seorang kawan jurnalis dalam sebuah diskusi menyerang soal Game of Thrones ini.

Sekali lagi, saya tidak akan berkomentar kalau kritik mereka terkait substansi pidato. Tentang pentingnya kerjasama internasional, tentang perang dagang dan sebagainya. Sayangnya yang mereka kritik soal penggunaan idiom Game of Thrones.

Banyak yang menyebut kenapa Presiden memakai Game of Thrones. Di dalamnya kan banyak kekerasan, adegan seks dan lain sebagainya. Iya, mereka mengkritik karena Game of Thrones dipenuhi adegan seks yang dalam pandangan mereka tidak Islami.

Kenapa Presiden tidak menggunakan seri TV lain, Upin Ipin atau Donald Duck misalnya, demikian tanya kawan saya tadi.

Well, pertama Game of Thrones dalam pidato Jokowi hanyalah metafora. Ia adalah wahana yang dipakai Presiden untuk menggambarkan kondisi dan konstelasi politik ekonomi dunia. Jokowi tidak sedang bicara soal serial itu sendiri.

Game of Thrones dalam pidato itu tak bisa dilepaskan dari konteks utama pesan Jokowi soal pentingnya kerjasama antarnegara dalam menghadapi krisis global, yang diibaratkannya dengan kerjasama para Houses dan Family menghadapi Evil Winter.

Namun sayang seribu sayang, masih banyak kawan kita yang tidak bisa, atau tidak mau, melihat konteks. Mereka mencomot soal House of Thrones dan mengkritisnya menggunakan pisau moralitas dan agama, yang tidak ada urusannya sama sekali dengan point pidato Jokowi itu sendiri.

Entah ini bentuk kecerobohan atau kesempitan pikir. Memotong satu hal, melepaskannya dari konteks lalu menggunakannya untuk menyerang pihak lain adalah hal yang memuakkan.

Saya prihatin, masih banyak saudara kita yang seperti itu. Saya berharap Anda yang membaca tulisan ini tidak masuk di dalamnya. Kritik itu boleh, namun kritiklah dengan logis dan kontekstual.

Tabik!

Asian Games dan Optimisme Berjamaah

Hasto Suprayogo - Asian Games Jakarta

Ada gelombang besar nan tengah memabukkan segenap lapisan masyarakat kita. Gelombang optimisme. Yang tak lain dan tak bukan disebabkan oleh capaian para atlet Indonesia di kancah kompetisi olahraga terbesar di Asia, apalagi kalau bukan Asian Games ke 18 di Jakarta dan Palembang.

Target Kemenpora 16 emas dan peringkat 10 besar berhasil dilampaui para atlet kita. Bahkan per hari ini, sudah terkumpul 22 medali emas dari pelbagai cabang olah raga. Dengan sisa waktu seminggu lagi, tak diragukan raihan ini akan terus bertambah.

Saya melihat amat bagus efek psikologis yang ditimbulkan oleh capaian luar biasa ini. Optimisme publik meningkat pesat, kepercayaan diri pada bangsa dan kemampuan anak negeri membumbung tinggi. Kita tak hanya bercita jadi macan Asia, tapi kita nyata menuju ke sana lewat prestasi olah raga.

Saya yang jauh di negeri orang sering senyum-senyum sendiri saat membaca berita hasil pertandingan Asian Games. Saya bisa bayangkan betapa suka rianya kawan-kawan semua yang ada di sana langsung menyaksikan aksinya.

Ini adalah momentum bagus bagi bangsa Indonesia. Momentum untuk bangkit dan berjuang di bidang-bidang lain. Momentum untuk bangun dan berubah menjadi lebih baik. Momentum untuk bersatu demi masa depan bersama.

Mumpung kita semua dijangkiti virus optimisme, mumpung sentimen nasionalisme kita sedang naik ke ibun-ubun, mari tindaklanjuti dengan aksi nyata berupa karya. Di segenap bidang yang kita bisa.

Yang jadi pengusaha berbisnislah dengan lebih baik. Yang bekerja lakukanlah jobdesknya lebih baik. Yang jadi aparat layanilah publik lebih baik. Yang jadi politisi kurangilah perilaku busuk kalian. Yang jadi publik dan netizen berhentilah nyinyir dan saling menghujat.

Bangsa kita beruntung diberi momen macam Asian Games ini. Bukan semata karena kesempatan meraih prestasi olah raga, namun ini adalah kesempatan untuk kembali bersatu dan maju bersama menyongsong masa depan.

So, mumpung optimisme berjamaah ini merasuki kita semua, ayo bergandengan tangan dan maju lewat karya.

Tabik!