Self-righteousness Karena Agama

Self-righteousness

Saya temukan fenomena menarik dari banyak kawan yang ‘menemukan kembali’ agama. Kawan-kawan yang dulunya ‘nakal’, namun kemudian di pertengahan jalan mendapatkan pencerahan, dan kembali ke jalan yang benar. Tak sedikit dari mereka tiba-tiba menampilkan tendensi self-righteousness.

Apa yang saya maksud self-righteousness? Tak lain tak bukan adalah kecenderungan untuk merasa dan menampilkan diri lebih superior dibanding yang lain, karena menganggap kepercayaan, aktifitas dan atau afiliasi kelompoknya paling benar dibanding yang lain. Atau kata anak Jakarta, mereka jadi songong.

Kecenderungan untuk merasa lebih baik, terkadang sampai titik yang menjengkelkan, sering dibarengi dengan semangat mendakwahkan kebenaran–tentunya versi yang dipercayanya. Segala apa yang baru didengarnya dalam pengajian disampaikan ke orang lain. Kadang tak melihat konteks, waktu atau tempat.

Sering ada juga kecenderungan untuk menilai bahkan menghakimi orang lain berdasarkan pandangan kebenarannya tersebut. Juga sedikit-sedikit mengaitkan perbincangan dengan dalil agama yang dihapalnya–atau di-Googlingnya.

Nah, kondisi macam ini diperparah lagi dengan kondisi politik belakangan. Yaitu maraknya praktek politik identitas, salah satunya dengan penggunaan agama sebagai jualan politik para elit. Kawan-kawan saya tadi banyak yang terseret masuk dalam gerakan politik agama. Bukan karena pengusung politik agama menawarkan program, agenda atau konsep yang lebih baik, namun hanya karena kesamaan sentimen agamanya semata.

Dan sekali lagi, tendensi self-righteousness tadi ikut-ikutan mereka bawa dalam berpolitik. Menganggap kelompok politik agama yang didukungnya adalah paling benar, sementara lainnya adalah salah, sesat atau bahkan sering kita dengar istilah kafir atau setan.

Betapa ngerinya hal ini. Bagaimana sesuatu yang awalnya baik–penemuan kembali nilai agama–berubah 180 derajat menjadi hal yang jauh dari nilai-nilai moral agama itu sendiri, macam kerendahan hati, prasangka baik dan persaudaraan.

Saran saya, jika Anda temui kawan-kawan macam ini, lebih baik dihindari. Kalau pun terpaksa berinteraksi, coba untuk tak perlu terlalu diambil hati. Tetap gunakan akal sehat, tetap pakai logika dan tetap berpikir terbuka.

Tabik!