Wajah Seram Loyalitas Konsumen Berlebihan

Hasto Suprayogo - Consumer Tribe

Membaca kabar tewasnya suporter sepakbola tanah air, saya mengelus dada. Prihatin sekaligus tak habis pikir. Nyawa anak manusia dicabut paksa untuk alasan yang pelakunya belum tentu paham maknanya.

Jika sebuah aksi sahihnya dilandasi motif tertentu, maka motif apa yang melatarbelakangi aksi pembantaian tersebut?

Jika sebuah tindakan dilakukan untuk mencapai tujuan, apa yang diraih dari perbuatan biadab tersebut?

Saya teringat kajian tentang consumers tribes. Sekelompok orang yang terkoneksi secara emosional lewat produk konsumsi dan menggunakan nilai keterkaitan produk tadi untuk menciptakan komunitas dan mengekspresikan identitasnya.

Singkat kata, mereka yang menemukan identitas diri dalam keramaian kelompok penggemar suatu brand. Brand kesebelasan sepakbola dan komunitas suporternya dalam contoh ini. Anda mungkin familier dengannya, atau bahkan tergabung di dalamnya.

Tak ada yang salah dengan menjadi fan sebuah brand, tak ada masalah pula dengan bergabung dalam tribe konsumen suatu brand. Yang jadi salah adalah, ketika loyalitas atas brand dan atas tribe tadi mengalahkan akal sehat Anda.

Kasus kekerasan antar suporter bola bukan kali pertama terjadi. Korban jiwa juga bukan kali pertama jatuh. Namun baru kali ini di tanah air dampaknya sebegitu kuat terasa. Dengar-dengar Liga kita pun akan dihentikan sementara karenanya.

Namun, saya melihat menghentikan jalannya liga bukan solusi nyata. Bukan itu dibutuhkan guna mencegah kejadian serupa. Yang bermasalah adalah pemaknaan sebagian suporter akan loyalitasnya pada tim sepakbola. Yang bermasalah adalah identitas diri yang dileburkannya pada identitas kelompok. Yang bermasalah adalah kapitalisasi sentimen ini oleh pelaku bisnis sepakbola tanpa memikirkan dampak buruknya.

Suporter adalah aset industri sepakbola. Mereka adalah konsumen sekaligus bagian dari hiburan itu sendiri. Layaknya konsumen, mereka berhak dilindungi dan difasilitasi.

Siapa yang musti melindungi dan memfasilitasi para suporter bola ini? Satu pasti adalah pelaku bisnis sepakbola. Manajemen kesebelasan, asosiasi sepakbola, pemerintah dan semua stakeholders yang turut menikmati remah kue industri ini.

Perlindungan tak hanya soal keamanan saat menonton bola, namun juga pengawasan dan pencegahan aksi-aksi melanggar hukum akibat loyalitas berlebih tribe konsumen sepakbola tadi.

Sementara, kelompok suporter juga musti berefleksi dan berbenah. Apakah sentimen loyalitas dan identitas kelompoknya mewujud positif ataukah justru sebaliknya. Apakah ikatan emosional atas nama, misal Viking, Bobotoh atau Jakmania, ini menjadikan anggotanya menjadi sosok yang lebih baik atau tidak?

Ini adalah PR kita semua. Membangun kesadaran, iklim sekaligus sistem dan penegakan hukum yang lebih baik. Sehingga tak perlu lagi ada anak bangsa yang meregang nyawa demi loyalitas semu tribe konsumsi seperti yang dialami Haringga Sirla.

Tabik!