Kenapa Menolak Politik Agama?

Politik Agama

Mungkin sebagian Anda bertanya, kenapa begitu banyak reaksi negatif terhadap acara reuni 212 di ibukota beberapa waktu lalu? Mungkin bagi kawan-kawan yang mendukung acara tersebut, tidak habis pikir bagaimana reaksi negatif tersebut, atau bahkan sampai titik penolakan, bisa datang dari penganut agama yang sama.

Saya ingin berbagi pandangan di balik penolakan tersebut. Ini hanya sekelumit hasil pengamatan saya, dan pastinya tidak akan mampu menjabarkan keseluruhan pandangan yang ada. Namun, ijinkan saya mencobanya.

Dasar utama penolakan acara tadi adalah pandangan bahwa acara tersebut bukanlah acara keagamaan, melainkan acara politik. Mengapa demikian? Jika dirunut, pandangan ini tidak salah, karena acara reuni merupakan kelanjutan gerakan politik sebelumnya yang dilakukan sebagian masyarakat untuk melengserkan Gubernur DKI saat itu. Juga karena acara reuni tadi digawangi dan dihadiri begitu banyak aktifis dan tokoh politik nasional.

Point berikutnya adalah, adanya pandangan sebagian besar umat muslim kita bahwa agama semestinya dijaga marwahnya sebagai ajaran moral. Agama, termasuk simbol-simbolnya, musti dijaga kesuciannya. Salah satunya dengan tidak menggunakannya dalam praktek-praktek politik yang cenderung kotor.

Kenapa bisa dibilang kotor? Karena secara esensial, politik adalah segala aktifitas, aksi atau policy yang dilakukan untuk meraih atau mempertahankan kekuasaan. Tujuan akhir politik adalah kekuasaan. Dan bagi banyak penganut agama, amatlah buruk nilainya menggunakan agama dengan segala simbolnya semata-mata untuk meraih dan atau mempertahankan kekuasaan dunia.

Ada idealisme sekaligus moralitas yang coba diwujudkan di sini. Menjaga kesucian agama, sekaligus menghindarkannya dari komodifikasi para pengejar kekuasaan semata.

Apakah hal tersebut salah? Saya pikir tidak. Saya termasuk yang percaya akan idealisme tersebut. Bahwa agama musti dijaga marwahnya, ditempatkan sebagai beacon moralitas sekaligus dijaga dari eksploitasi oleh para pengejar kekuasaan.

Mungkin Anda tidak berbagi idealisme serupa. Tidak apa-apa. Mungkin Anda percaya bahwa agama harus dipraktekkan secara menyeluruh, termasuk dalam politik. Boleh saja. Tapi ingat, kekuasaan itu punya tendensi mengorupsi mental dan moralitas pengejarnya.

Mungkin Anda bilang politik agama itu perlu dilakukan untuk melindungi umat atau untuk mewujudkan nilai-nilai luhur yang diajarkan Rasul. Well, pertanyaannya adalah, apakah hanya dengan mempolitisasi agama hal tersebut baru bisa dilakukan? Ataukah tanpa politisasi agama hal serupa juga bisa, sedang atau sudah terwujud?

Atau, pernahkah terbersit sekali saja, bahwa kalau mau jujur mengakui, alasan utama mempolitisasi agama adalah kemudahannya untuk meraih kekuasaan itu sendiri? As simple as that. Coba tanyakan pada batin dan nurani Anda. Jika iya, cukup akui itu dalam hati tak perlu Anda ucapkan di sini.

Satu point terakhir yang ingin saya sampaikan, bagi kami yang menolak politisasi agama, ketahuilah bahwa dasar pemikiran kami adalah demi menjaga marwah dan posisi mulia agama itu sendiri. Jika Anda berbagi kepedulian sama untuk melindungi agama, maka Anda pun akan turut serta menolak politisasi terhadapnya.

Tabik!

Ilusi Strongman

Hasto Suprayogo - Ilusi Strongman

Belakangan di tanah air saya melihat kecenderungan sebagian kita merindukan pemimpin yang kuat. Strongman, demikian kita bisa menyebutnya.

Pemimpin yang dalam imaji pendukungnya, mampu merubah keadaan secara drastis. Menghapus hutang luar negeri. Mengambilalih sumberdaya alam yang dikuasai asing. Menjadikan Indonesia berjaya secara politik, ekonomi, militer dan sebagainya. Intinya di bawah kendalinya, negeri kita langsung jadi gemah ripah loh jinawi.

Saking rindunya sebagian kita akan sosok strongman macam ini, kita jadi lupa untuk kritis atasnya. Kritis akan rekam jejaknya secara personal maupun profesional. Kritis akan progam kerja yang ditawarkan.

Kritis akan tim pendukung yang mengawal langkahnya. Kritis akan kondisi geopolitik dan ekonomi global yang silang sengkarutnya mempengaruhi secara kuat kondisi bangsa kita.

Ada kecenderungan sebagian kita untuk menaruh akal sehat di bawah emosi dukungan atas strongman ini. Dan parahnya, sang strongman alih-alih mengingatkan pendukungnya untuk tetap memakai logika, justru mengeksploitasi sentimen emosional ini.

Belajar dari kasus-kasus serupa di berbagai negara, strongman muncul menumpangi demokrasi. Strongman menjejali publik dengan narasi politik identitas dan merchantilisme. Dia menghembuskan ketakutan publik akan musuh di luar sana yang musti ditakuti. Dan ujungnya, dia menampilkan diri sebagai satu-satunya penyelamat publik dari ketakutannya tadi.

Ada Hitler yang bangkit berkuasa di atas puing-puing Jerman era Republik Weimar. Dia gunakan narasi politik identitas ruang hidup masyarakat Jerman yang makin terkikis paska kekalahan Perang Dunia 1. Dia jual musuh bernama Yahudi. Dan ujung-ujungnya, dia naik berkuasa sebagai Fuhrer nan despotik di atas genangan darah jutaan korban rezim Nazinya.

Cerita sama di negeri-negeri lain. Pola sama, strategi serupa, hanya beda format dan kemasan ideologi. Mussolini di Italia, Franco di Spanyol, Stalin di Soviet atau Mao Zedong di China untuk menyebut beberapa diantaranya.

Bahkan si era sekarang, kita bisa temukan kecenderungan serupa. Strongman muncul di ranah politik berbagai negara, dan tak sedikit di antaranya yang berhasil berkuasa. Trump di Amerika Serikat dan Duterte di Filipina adalah dua contoh kontemporer kita.

Saya punya kekhawatiran hal serupa bisa saja terjadi di Indonesia. Arah-arahnya jelas terlihat. Kecenderungan itu ada dan belakangan menguat.

Saya melihat hal ini berbahaya. Ilusi strongman menafikkan akal sehat. Membuat kita alpa bahwa seorang pemimpin bukanlah superman apalagi rasul yang maksum. Dia hanyalah pengampu amanat publik yang musti dibatasi dan diawasi lewat sistem.

Ilusi strongman yang mensyaratkan adanya musuh bersama juga bahaya. Ia menjadikan publik paranoid akan kelompok lain, golongan minoritas, mereka yang berbeda. Ia merusak harmoni atas nama sekuritas.

Dalam pandangan saya, jika ada pemimpin atau kelompok politik yang terus menghembuskan narasi strongman sebagai juru selamat macam ini, tolaklah. Karena mereka menawarkan kejayaan, sementara sejarah mencatat, strongman macam ini berujung pada kehancuran.

Tabik!