Agama, Gaya Hidup Atau Jalan Hidup

jalan hidup

Membaca sebuah cuitan seorang tokoh menyentakkan saya. Dia menyayangkan kecenderungan sebagian umat Islam tanah air yang mengusung agamanya lebih sebagai gaya hidup, dan bukan jalan hidup.

Agama sebagai gaya hidup ya sesuai namanya, hanya sebagai gaya semata. Layaknya gaya hidup lain, ada trend di sana. Ada penekanan pada tampilan, visualisasi, bentuk luar, kulit dan tanda serta penanda.

Ketika semua atribut eksterior ini diadopsi, maka sah-lah seorang mengkalim diri telah beragama dengan benar. Atribut eksoteris macam ini kemudian dilihat orang lain, diafirmasi sesamanya dan nampaknya itu cukup baginya.

Lalu bagaimana dengan sisi interiornya? Bagaimana dengan esoteris religiusnya? Bagaimana dengan jiwa dan mentalnya?

Well, banyak yang menafikkan, karena sisi ini tidak terlihat, sisi ini tidak nampak dan tidak bisa dilihat orang lain. Karenanya tak terlalu penting.

Bagaimana dengan pendekatan satunya, agama sebagai jalan hidup? Di sini, tampilan, atribut, tanda dan penanda ‘agama’ bukan yang utama. Namun esensi moral, mental dan penyucian jiwa menjadi prioritas.

Menjadi umat yang baik dalam kacamata pandang ini artinya menjalani hidup dengan cara yang baik, lewat ucapan yang baik, hubungan dengan manusia lain dan segenap alam yang baik, dan pastinya tidak secara pongah mengklaim diri lebih baik dari yang lain.

Tengoklah para kyai kampung, yang hidupnya sederhana, yang tampilannya tak seberapa, yang ketika berbicara atau mengisi acara terasa hangat dan menentramkan. Ada korelasi antara ajaran dengan praktek kehidupan dalam dirinya.

Gaya hidup adalah tren yang amat mungkin berganti. Apa yang tendi sekarang, bisa jadi tak lagi trendi beberapa waktu mendatang. Apa jadinya jika agama dipahami sebagai tren?

Apakah kecenderungan ini yang dulu sempat diwanti-wanti Kanjeng Nabi sebagai umatnya yang banyak namun seperti buih lautan?

Bisa jadi demikian adanya. Bisa jadi ini adalah bahan renungan kita bersama. Untuk lebih menjadikan agama sebagai jalan hidup dan bukan gaya semata.

Tabik!

Bahar Smith, Antara Kritik atau Caci Maki

bahar smith

Adakah yang salah dengan kritik? Adakah yang salah jika yang dikritik penguasa? Tidak dan tidak sama sekali. Tapi akan salah jika yang disampaikan bukanlah kritik melainkan caci maki.

Apa beda kritik dan caci maki?

Menurut saya, kritik bersandar pada fakta, disampaikan menggunakan logika dan ditujukan untuk membenahi subyek yang dikritiknya.

Sedang caci maki, lebih berisi ungkapan tidak suka, seringnya tendensius, emosional dan menafikkan fakta serta nirlogika.

Saya selalu salut dengan mereka yang tegak berdiri dan lantang menyuarakan kritik pada penguasa. Dibutuhkan kecerdasan untuk merangkai kritik, keberanian untuk menyuarakan ketidaksetujuan dan keteguhan hati menahan konsekuensi yang mungkin datang.

Sayang sekali, tak semua orang paham beda kritik dan caci maki. Lebih parah lagi, caci maki sering disuarakan dalam mimbar berlabel acara keagamaan. Jauh lebih mengerikan, ada saja telinga-telinga yang mau mendengarkan dan bahkan memberi dukungan.

Bangsa ini nampaknya masih punya PR besar mendidikan anak-anaknya untuk bisa membedakan kritik dari caci maki. Kita bersama punya PR besar mendidik bangsa kita untuk bisa menyuarakan kritik secara logis dan berlandas fakta, dan menghindari terjebak caci maki berselimut emosi dan kebencian semata.

PR kita banyak, PR kita panjang, namun justru itu bisa kita jadikan agenda bersama untuk diwujudkan. Demi kita semua, demi Indonesia.

Tabik!