PK, Sticker Dewa dan Pembakaran Bendera

PK Aamir Khan

Riuh rendah polemik pembakaran bendera ormas di tanah air, membuat saya teringat film satu ini. PK, film India besutan Aamir Khan yang rilis 2014.

Ada satu adegan di mana PK masuk ke kuil Hindu yang ramai orang untuk mencuri uang di kotak amal. Sebelum melakukan aksinya, PK menempelkan dua sticker di pipi. Krishna dan Hanuman di masing-masingnya.

Buat apa? Proteksi katanya. Nyata benar. Saat pengunjung kuil mengetahui aksinya dan berebutan mau memukuli, PK menyodorkan pipi dan serempak publik ragu memukul. Tak lain karena sticker tadi.

Pararel saya temukan dalam kasus tanah air. Sebuah ormas menempelkan tulisan dalam lafal Arab yang jika dibaca adalah pernyataan ketauhidan umat Islam. Namun, serupa dengan PK, mereka menempelkannya bukan untuk memuja Tuhan, namun melindungi diri sendiri.

Mengapa butuh melindungi diri? Sekali lagi, pararel dengan PK, mereka tengah melakukan tindakan kriminal. Yaitu menggalang aksi merubah ideologi dan bentuk negara alias makar.

Serupa dengan PK, mereka butuh bendera dengan lafal tauhid itu untuk melindungi diri dari kemarahan umat yang mengetahui aksinya. Karena mereka paham, umat Islam pasti tidak mau atau paling tidak ragu memukuli mereka karena benderanya.

Cerdas? Yes, harus diakui mereka cerdas seperti PK. Atau lebih tepatnya licik. Ibarat serigala menyaru jadi domba.

Balik ke soal pembakaran, ada 2 isu utama dalam kasus ini. Pertama soal validitas klaim bendera berlafal arab itu sebagai bendera tauhid atau rasul. Kedua soal pembakarannya sebagai reaksi penolakan keberadaan ormas makar tadi.

Isu pertama, ada kajian menarik dari Prof Nadirsyah Hosen, seorang kyai muda NU, yang menunjukkan klaim bendera tauhid didasarkan hadist yang statusnya dhoif. Karenanya layak ditolak kebenaran klaim tadi. Di point ini, saya melihat masalah sudah clear.

Isu kedua, soal pembakaran, sebagai penolakan keberadaan ormas HTI sebagai hal yang benar namun kurang apik secara politis. Karena, insiden tadi menjelma jadi bola liar untuk menghantam Banser, NU dan pihak-pihak yang diasosiasikan dengannya (baca pemerintah).

Saya tidak akan berpolemik soal isu pertama. Biarkan para ahli agama membahasnya. Namun soal kedua, saya tertarik berpendapat.

Dalam pandangan saya, penggunaan bendera dengan lafal Tuhan di dalamnya adalah pembajakan terburuk atas agama. Apalagi kalau bendera tadi digunakan untuk kepentingan politik praktis. Ini adalah bukti kasat mata betapa sekelompok orang demi memuaskan hasratnya akan kekuasaan tega menjual agama dan nama Tuhan sebegitu rendahnya.

Tak kalah menyedihkan adalah, ketidakmpuan sebagian kita mengenalinya dan mencampuradukkannya dengan isu agama. Mereka yang karena emosi semata, melakukan pembelaan, tanpa mencoba menyibak layer lebih dalam bahwa semua ini perkara permainan kuasa.

Politik kita belakangan semakin kental dengan jargon-jargon identitas. Dan agama dengan segala simbolismenya adalah jargon yang seksi untuk dijual. Karenanya, dibutuhkan pikiran jernih dan akal sehat untuk bisa memilah mana yang adalah isu agama beneran dan mana yang isu politik dibalut jubah agama.

Di sini saya teringat perintah Tuhan pertama kali pada Kanjeng Nabi, yakni berpikir. Berpikir dan tidak menelan mentah-mentah. Berpikir memakai nalar dan logika bukan emosi semata. Karena tanpanya, kita hanya akan jadi korban permainan serigala berbulu domba.

Tabik!