Kenapa Menolak Politik Agama?

Politik Agama

Mungkin sebagian Anda bertanya, kenapa begitu banyak reaksi negatif terhadap acara reuni 212 di ibukota beberapa waktu lalu? Mungkin bagi kawan-kawan yang mendukung acara tersebut, tidak habis pikir bagaimana reaksi negatif tersebut, atau bahkan sampai titik penolakan, bisa datang dari penganut agama yang sama.

Saya ingin berbagi pandangan di balik penolakan tersebut. Ini hanya sekelumit hasil pengamatan saya, dan pastinya tidak akan mampu menjabarkan keseluruhan pandangan yang ada. Namun, ijinkan saya mencobanya.

Dasar utama penolakan acara tadi adalah pandangan bahwa acara tersebut bukanlah acara keagamaan, melainkan acara politik. Mengapa demikian? Jika dirunut, pandangan ini tidak salah, karena acara reuni merupakan kelanjutan gerakan politik sebelumnya yang dilakukan sebagian masyarakat untuk melengserkan Gubernur DKI saat itu. Juga karena acara reuni tadi digawangi dan dihadiri begitu banyak aktifis dan tokoh politik nasional.

Point berikutnya adalah, adanya pandangan sebagian besar umat muslim kita bahwa agama semestinya dijaga marwahnya sebagai ajaran moral. Agama, termasuk simbol-simbolnya, musti dijaga kesuciannya. Salah satunya dengan tidak menggunakannya dalam praktek-praktek politik yang cenderung kotor.

Kenapa bisa dibilang kotor? Karena secara esensial, politik adalah segala aktifitas, aksi atau policy yang dilakukan untuk meraih atau mempertahankan kekuasaan. Tujuan akhir politik adalah kekuasaan. Dan bagi banyak penganut agama, amatlah buruk nilainya menggunakan agama dengan segala simbolnya semata-mata untuk meraih dan atau mempertahankan kekuasaan dunia.

Ada idealisme sekaligus moralitas yang coba diwujudkan di sini. Menjaga kesucian agama, sekaligus menghindarkannya dari komodifikasi para pengejar kekuasaan semata.

Apakah hal tersebut salah? Saya pikir tidak. Saya termasuk yang percaya akan idealisme tersebut. Bahwa agama musti dijaga marwahnya, ditempatkan sebagai beacon moralitas sekaligus dijaga dari eksploitasi oleh para pengejar kekuasaan.

Mungkin Anda tidak berbagi idealisme serupa. Tidak apa-apa. Mungkin Anda percaya bahwa agama harus dipraktekkan secara menyeluruh, termasuk dalam politik. Boleh saja. Tapi ingat, kekuasaan itu punya tendensi mengorupsi mental dan moralitas pengejarnya.

Mungkin Anda bilang politik agama itu perlu dilakukan untuk melindungi umat atau untuk mewujudkan nilai-nilai luhur yang diajarkan Rasul. Well, pertanyaannya adalah, apakah hanya dengan mempolitisasi agama hal tersebut baru bisa dilakukan? Ataukah tanpa politisasi agama hal serupa juga bisa, sedang atau sudah terwujud?

Atau, pernahkah terbersit sekali saja, bahwa kalau mau jujur mengakui, alasan utama mempolitisasi agama adalah kemudahannya untuk meraih kekuasaan itu sendiri? As simple as that. Coba tanyakan pada batin dan nurani Anda. Jika iya, cukup akui itu dalam hati tak perlu Anda ucapkan di sini.

Satu point terakhir yang ingin saya sampaikan, bagi kami yang menolak politisasi agama, ketahuilah bahwa dasar pemikiran kami adalah demi menjaga marwah dan posisi mulia agama itu sendiri. Jika Anda berbagi kepedulian sama untuk melindungi agama, maka Anda pun akan turut serta menolak politisasi terhadapnya.

Tabik!

Awas Jebakan Confirmation Bias

confirmation bias

Banyak dari kita mempraktekkan confirmation bias, sadar atau tidak. Di mana kita punya tendensi, atau kecenderungan, untuk mencari, menginterpretasi, memilih atau me-recall informasi yang sesuai atau mengkonfirmasi hal yang sudah kita percaya sebelumnya.

Bahasa simpel-nya, kita mengambil apa yang sesuai dengan kepercayaan kita, dan membuang lainnya, terutama yang berseberangan. Jika Anda sering berinteraksi dengan orang lain, khususnya mereka yang aktif mengikuti perkembangan politik tanah air, atau aktif berpolitik bahkan, maka Anda akan dengan mudah temukan contohnya.

Kebenaran informasi bagi mereka yang terjebak dalam confirmation bias tidaklah penting. Bahkan jika mereka menggunakan data sebagai sumber informasi, tidak penting validitasnya. Fakta bukanlah hal yang utama pula, karena sekali lagi, yang dipilah adalah informasi, data atau fakta yang sesuai dengan kepercayaannya. Lainnya disingkirkan.

Mau contohnya? Sekelompok orang ‘percaya’ bahwa kepala negara kita keturunan anggota partai terlarang, keturunan etnis minoritas, dan sejenisnya. Mereka membasiskan kepercayaan itu pada informasi entah dari mana, yang validitasnya dipertanyakan. Bahkan, ketika disodorkan informasi, data dan fakta yang jelas dan nyata membantahnya, mereka masih saja percaya demikian.

Ada lagi, sekelompok orang lain percaya bahwa umat agama mayoritas di tanah air ditindas penguasa. Para ulamanya dipersekusi bahkan dikriminalisasi. Sehingga karenanya, mereka butuh bangkit untuk melawan pemerintah. Apa dasarnya, well jangan tertawa jika saya bilang salah satu dasarnya adalah ‘kepercayaan’ di atas bahwa kepala pemerintahan kita keturunan atau simpatisan partai terlarang.

Dan sekali lagi, meski telah ditunjukkan informasi, data dan fakta yang membantah semua tuduhan tadi, masih saja mereka keukeuh dengan kepercayaannya.

Confirmation bias ini bersilangsengkarut dengan efek echo chamber, di mana seorang mempunyai kecenderungan mencari informasi dan mengafirmasi kebenarannya dari kelompoknya sendiri. Sehingga yang terjadi adalah amplifikasi kepercayaan yang bias tadi.

Ngeri bukan?

Karenanya amat sangat penting untuk tidak menerima mentah-mentah informasi apa saja dari siapa saja, terutama kelompok sendiri, tanpa melakukan cek dan ricek. Karenanya penting untuk mengkritisi informasi yang diterima, mencari tau sumber asalnya, kredibilitas pembuat dan penyampainya, mengkroscek dengan sumber informasi lain, sehingga meminimalisir confirmation bias tadi.

Karena apa? Karena pada akhirnya, confirmation bias kita tak hanya merugikan orang atau pihak lain yang terdiskriminasi olehnya, namun juga kita sendiri. Confirmation bias menjadikan kita tidak bisa melihat dunia dan realita secara fair dan proporsional. Confirmation bias menjadikan hidup kita penuh syak wasangka. Penuh ketakutan, penuh kekhawatiran dan penuh permusuhan.

Coba buka mata dan pikiran pada informasi, data dan fakta yang lain, yang belum tentu sesuai prekonsepsi kebenaran kita. Karena hanya dengan membuka diri macam ini, kita berkesempatan menemukan kebenaran yang sebenarnya.

Tabik!

Bahar Smith, Antara Kritik atau Caci Maki

bahar smith

Adakah yang salah dengan kritik? Adakah yang salah jika yang dikritik penguasa? Tidak dan tidak sama sekali. Tapi akan salah jika yang disampaikan bukanlah kritik melainkan caci maki.

Apa beda kritik dan caci maki?

Menurut saya, kritik bersandar pada fakta, disampaikan menggunakan logika dan ditujukan untuk membenahi subyek yang dikritiknya.

Sedang caci maki, lebih berisi ungkapan tidak suka, seringnya tendensius, emosional dan menafikkan fakta serta nirlogika.

Saya selalu salut dengan mereka yang tegak berdiri dan lantang menyuarakan kritik pada penguasa. Dibutuhkan kecerdasan untuk merangkai kritik, keberanian untuk menyuarakan ketidaksetujuan dan keteguhan hati menahan konsekuensi yang mungkin datang.

Sayang sekali, tak semua orang paham beda kritik dan caci maki. Lebih parah lagi, caci maki sering disuarakan dalam mimbar berlabel acara keagamaan. Jauh lebih mengerikan, ada saja telinga-telinga yang mau mendengarkan dan bahkan memberi dukungan.

Bangsa ini nampaknya masih punya PR besar mendidikan anak-anaknya untuk bisa membedakan kritik dari caci maki. Kita bersama punya PR besar mendidik bangsa kita untuk bisa menyuarakan kritik secara logis dan berlandas fakta, dan menghindari terjebak caci maki berselimut emosi dan kebencian semata.

PR kita banyak, PR kita panjang, namun justru itu bisa kita jadikan agenda bersama untuk diwujudkan. Demi kita semua, demi Indonesia.

Tabik!

PK, Sticker Dewa dan Pembakaran Bendera

PK Aamir Khan

Riuh rendah polemik pembakaran bendera ormas di tanah air, membuat saya teringat film satu ini. PK, film India besutan Aamir Khan yang rilis 2014.

Ada satu adegan di mana PK masuk ke kuil Hindu yang ramai orang untuk mencuri uang di kotak amal. Sebelum melakukan aksinya, PK menempelkan dua sticker di pipi. Krishna dan Hanuman di masing-masingnya.

Buat apa? Proteksi katanya. Nyata benar. Saat pengunjung kuil mengetahui aksinya dan berebutan mau memukuli, PK menyodorkan pipi dan serempak publik ragu memukul. Tak lain karena sticker tadi.

Pararel saya temukan dalam kasus tanah air. Sebuah ormas menempelkan tulisan dalam lafal Arab yang jika dibaca adalah pernyataan ketauhidan umat Islam. Namun, serupa dengan PK, mereka menempelkannya bukan untuk memuja Tuhan, namun melindungi diri sendiri.

Mengapa butuh melindungi diri? Sekali lagi, pararel dengan PK, mereka tengah melakukan tindakan kriminal. Yaitu menggalang aksi merubah ideologi dan bentuk negara alias makar.

Serupa dengan PK, mereka butuh bendera dengan lafal tauhid itu untuk melindungi diri dari kemarahan umat yang mengetahui aksinya. Karena mereka paham, umat Islam pasti tidak mau atau paling tidak ragu memukuli mereka karena benderanya.

Cerdas? Yes, harus diakui mereka cerdas seperti PK. Atau lebih tepatnya licik. Ibarat serigala menyaru jadi domba.

Balik ke soal pembakaran, ada 2 isu utama dalam kasus ini. Pertama soal validitas klaim bendera berlafal arab itu sebagai bendera tauhid atau rasul. Kedua soal pembakarannya sebagai reaksi penolakan keberadaan ormas makar tadi.

Isu pertama, ada kajian menarik dari Prof Nadirsyah Hosen, seorang kyai muda NU, yang menunjukkan klaim bendera tauhid didasarkan hadist yang statusnya dhoif. Karenanya layak ditolak kebenaran klaim tadi. Di point ini, saya melihat masalah sudah clear.

Isu kedua, soal pembakaran, sebagai penolakan keberadaan ormas HTI sebagai hal yang benar namun kurang apik secara politis. Karena, insiden tadi menjelma jadi bola liar untuk menghantam Banser, NU dan pihak-pihak yang diasosiasikan dengannya (baca pemerintah).

Saya tidak akan berpolemik soal isu pertama. Biarkan para ahli agama membahasnya. Namun soal kedua, saya tertarik berpendapat.

Dalam pandangan saya, penggunaan bendera dengan lafal Tuhan di dalamnya adalah pembajakan terburuk atas agama. Apalagi kalau bendera tadi digunakan untuk kepentingan politik praktis. Ini adalah bukti kasat mata betapa sekelompok orang demi memuaskan hasratnya akan kekuasaan tega menjual agama dan nama Tuhan sebegitu rendahnya.

Tak kalah menyedihkan adalah, ketidakmpuan sebagian kita mengenalinya dan mencampuradukkannya dengan isu agama. Mereka yang karena emosi semata, melakukan pembelaan, tanpa mencoba menyibak layer lebih dalam bahwa semua ini perkara permainan kuasa.

Politik kita belakangan semakin kental dengan jargon-jargon identitas. Dan agama dengan segala simbolismenya adalah jargon yang seksi untuk dijual. Karenanya, dibutuhkan pikiran jernih dan akal sehat untuk bisa memilah mana yang adalah isu agama beneran dan mana yang isu politik dibalut jubah agama.

Di sini saya teringat perintah Tuhan pertama kali pada Kanjeng Nabi, yakni berpikir. Berpikir dan tidak menelan mentah-mentah. Berpikir memakai nalar dan logika bukan emosi semata. Karena tanpanya, kita hanya akan jadi korban permainan serigala berbulu domba.

Tabik!

Ilusi Strongman

Hasto Suprayogo - Ilusi Strongman

Belakangan di tanah air saya melihat kecenderungan sebagian kita merindukan pemimpin yang kuat. Strongman, demikian kita bisa menyebutnya.

Pemimpin yang dalam imaji pendukungnya, mampu merubah keadaan secara drastis. Menghapus hutang luar negeri. Mengambilalih sumberdaya alam yang dikuasai asing. Menjadikan Indonesia berjaya secara politik, ekonomi, militer dan sebagainya. Intinya di bawah kendalinya, negeri kita langsung jadi gemah ripah loh jinawi.

Saking rindunya sebagian kita akan sosok strongman macam ini, kita jadi lupa untuk kritis atasnya. Kritis akan rekam jejaknya secara personal maupun profesional. Kritis akan progam kerja yang ditawarkan.

Kritis akan tim pendukung yang mengawal langkahnya. Kritis akan kondisi geopolitik dan ekonomi global yang silang sengkarutnya mempengaruhi secara kuat kondisi bangsa kita.

Ada kecenderungan sebagian kita untuk menaruh akal sehat di bawah emosi dukungan atas strongman ini. Dan parahnya, sang strongman alih-alih mengingatkan pendukungnya untuk tetap memakai logika, justru mengeksploitasi sentimen emosional ini.

Belajar dari kasus-kasus serupa di berbagai negara, strongman muncul menumpangi demokrasi. Strongman menjejali publik dengan narasi politik identitas dan merchantilisme. Dia menghembuskan ketakutan publik akan musuh di luar sana yang musti ditakuti. Dan ujungnya, dia menampilkan diri sebagai satu-satunya penyelamat publik dari ketakutannya tadi.

Ada Hitler yang bangkit berkuasa di atas puing-puing Jerman era Republik Weimar. Dia gunakan narasi politik identitas ruang hidup masyarakat Jerman yang makin terkikis paska kekalahan Perang Dunia 1. Dia jual musuh bernama Yahudi. Dan ujung-ujungnya, dia naik berkuasa sebagai Fuhrer nan despotik di atas genangan darah jutaan korban rezim Nazinya.

Cerita sama di negeri-negeri lain. Pola sama, strategi serupa, hanya beda format dan kemasan ideologi. Mussolini di Italia, Franco di Spanyol, Stalin di Soviet atau Mao Zedong di China untuk menyebut beberapa diantaranya.

Bahkan si era sekarang, kita bisa temukan kecenderungan serupa. Strongman muncul di ranah politik berbagai negara, dan tak sedikit di antaranya yang berhasil berkuasa. Trump di Amerika Serikat dan Duterte di Filipina adalah dua contoh kontemporer kita.

Saya punya kekhawatiran hal serupa bisa saja terjadi di Indonesia. Arah-arahnya jelas terlihat. Kecenderungan itu ada dan belakangan menguat.

Saya melihat hal ini berbahaya. Ilusi strongman menafikkan akal sehat. Membuat kita alpa bahwa seorang pemimpin bukanlah superman apalagi rasul yang maksum. Dia hanyalah pengampu amanat publik yang musti dibatasi dan diawasi lewat sistem.

Ilusi strongman yang mensyaratkan adanya musuh bersama juga bahaya. Ia menjadikan publik paranoid akan kelompok lain, golongan minoritas, mereka yang berbeda. Ia merusak harmoni atas nama sekuritas.

Dalam pandangan saya, jika ada pemimpin atau kelompok politik yang terus menghembuskan narasi strongman sebagai juru selamat macam ini, tolaklah. Karena mereka menawarkan kejayaan, sementara sejarah mencatat, strongman macam ini berujung pada kehancuran.

Tabik!

Gagal Memahami Konteks

Hasto Suprayogo - Gagal Memahami Konteks

Pidato Presiden Jokowi dalam perhelatan IMF-World Bank di Bali mengundang decak kagum banyak pihak. Tak kurang Sekjen PBB, Direktur IMF juga pimpinan Bank Dunia menyebut ajakan kolaborasi Jokowi dengan metafora Game of Thrones sebagai hal yang mengena.

Jokowi memang lincah dalam mengemas pidato-pidatonya dengan idiom-idiom populer yang menyentil. Jika diingat, sebelumnya Presiden ketujuh kita itu pernah menggunakan analogi Avengers dan Thanos dalam pidatonya.

Namun, jika di depan khalayak internasional, idiom populer Jokowi tentang Game of Thrones menemukan resonansinya, hal sebaliknya di tanah air.

Upaya Jokowi menyampaikan perlunya kerjasama internasional, bahaya perang dagang dan perebutan hegemoni geopolitik antar negara adikuasa lewat idiom serial tv tersebut justru diserang oleh berbagai pihak di Indonesia. Tentunya kubu oposisi menjadi yang terdepan.

Saya tidak akan berkomentar jika hanya pihak politisi oposisi yang menyerang. Adalah wajar mereka lakukan dalam tahun politik macam sekarang.

Namun, banyak pihak lain, publik awam yang turut menyerang penggunaan idiom tadi. Bahkan seorang kawan jurnalis dalam sebuah diskusi menyerang soal Game of Thrones ini.

Sekali lagi, saya tidak akan berkomentar kalau kritik mereka terkait substansi pidato. Tentang pentingnya kerjasama internasional, tentang perang dagang dan sebagainya. Sayangnya yang mereka kritik soal penggunaan idiom Game of Thrones.

Banyak yang menyebut kenapa Presiden memakai Game of Thrones. Di dalamnya kan banyak kekerasan, adegan seks dan lain sebagainya. Iya, mereka mengkritik karena Game of Thrones dipenuhi adegan seks yang dalam pandangan mereka tidak Islami.

Kenapa Presiden tidak menggunakan seri TV lain, Upin Ipin atau Donald Duck misalnya, demikian tanya kawan saya tadi.

Well, pertama Game of Thrones dalam pidato Jokowi hanyalah metafora. Ia adalah wahana yang dipakai Presiden untuk menggambarkan kondisi dan konstelasi politik ekonomi dunia. Jokowi tidak sedang bicara soal serial itu sendiri.

Game of Thrones dalam pidato itu tak bisa dilepaskan dari konteks utama pesan Jokowi soal pentingnya kerjasama antarnegara dalam menghadapi krisis global, yang diibaratkannya dengan kerjasama para Houses dan Family menghadapi Evil Winter.

Namun sayang seribu sayang, masih banyak kawan kita yang tidak bisa, atau tidak mau, melihat konteks. Mereka mencomot soal House of Thrones dan mengkritisnya menggunakan pisau moralitas dan agama, yang tidak ada urusannya sama sekali dengan point pidato Jokowi itu sendiri.

Entah ini bentuk kecerobohan atau kesempitan pikir. Memotong satu hal, melepaskannya dari konteks lalu menggunakannya untuk menyerang pihak lain adalah hal yang memuakkan.

Saya prihatin, masih banyak saudara kita yang seperti itu. Saya berharap Anda yang membaca tulisan ini tidak masuk di dalamnya. Kritik itu boleh, namun kritiklah dengan logis dan kontekstual.

Tabik!

El Che dan Idealisme Pemuda

Che Guevara

Bisa dibilang, Che Guevara adalah salah satu tokoh paling populer di dunia. Bahkan bagi yang tidak tertarik soal politik, atau isu-isu revolusioner yang diusungnya, mereka pasti sekali waktu dengar atau menyimak citra wajahnya.

Bagi saya, El Che, demikian dia akrab disapa, adalah representasi idealisme kaum muda. Cerita tentang perjalanannya keliling Amerika Latin naik sepeda motor di awal abad 20, dilanjutkan keputusannya bergabung dengan kelompok pemberontak Fidel Castro dan menjalankan perang gerilya selama dua tahun di hutan perawan Cuba hingga akhirnya mereka berhasil menggulingkan diktator Fulgencio Batista amatlah legendaris.

Kiprahnya di dunia internasional dalam mengkampanyekan idealisme sosialis yang dipercaya, juga upaya nyatanya membantu gerakan politik antiimperialisme di berbagai negara, hingga akhir hidupnya di ujung senapan pasukan pemerintah Bolivia pada 9 Oktober 1967, semakin menguatkan imaji publik atasnya. Ya, di usia 39 tahun, Che Guevara menempatkan dirinya di jajaran para martir ideologis dunia.

Soekarno pernah lantang berkata, berikan aku sepuluh pemuda maka akan kuguncang dunia. Nampaknya ucapan ini tak hanya bunga bibir semata, kalau melihat kasus Che. Dan pastinya, Soekarno bukan sosok yang tidak terinspirasi oleh karibnya tersebut. Keduanya sama-sama mengawali karir sebagai pejuang revolusioner di kala belia, hanya bedanya Soekarno bertahan sampai usia senja di puncak kuasa, sementara Che berkalang tanah di negeri tetangga.

Revolusi mensyaratkan idealisme, itu yang saya percaya. Dan idealisme, umumnya membara di dada para pemuda. Ibarat cinta, idealisme akan bangsa menemukan ladang persemaian terbaiknya di jiwa kaum muda. Dan Che adalah bukti nyatanya.

Hari ini, 51 tahun lalu, sosok dokter asal Argentina ini meninggalkan dunia. Tubuhnya tersungkur diberondong peluru serdadu Bolivia. Namun jiwa dan perjuangannya, tetap abadi menginspirasi ribuan bahkan jutaan jiwa-jiwa pemuda di luar sana.

Hasta la victoria siempre el Comandante!

Manusia Berkacamata Kuda

Hasto Suprayogo - Kacamata Kuda

Trenyuh mendapati tak sedikit warga yang mengaitkan bencana gempa dan tsunami Palu dengan perkara politik. Mereka mengaitkan tragedi yang merenggut sejauh ini 800an lebih nyawa saudara kita di Sulawesi Tengah dengan pertarungan kekuasaan para elit.

Ini bukan kali pertama bencana alam dihubung-hubungkan dengan kepentingan kekuasaan, dan nampaknya bukan kali terakhir. Ini bukan kali pertama kepedihan para korban dimanfaatkan sebagai amunisi serangan kepada lawan.

Bagaimana bisa ada sekelompok orang yang melakukan hal semacam itu? Bagaimana menjelaskan mental macam apa yang melatarbelakangi perilaku seperti itu?

Jika kita simak profiling mereka yang melakukan pengaitan bencana dengan politik bukan hanya masyarakat awam, bukan hanya orang tak berpendidikan. Malah kabarnya ada seorang Profesor hukum yang turut menyebar analisis gotak-gatuk bencana Palu dengan penetapan tersangka seorang self-proclaimed tokoh agama yang kebetulan sohor karena gemar mencacimaki pemerintah.

Kacamata kuda, demikian saya menyebutnya. Manusia berkacamata kuda. Mereka yang hanya melihat dan mau melihat dunia dengan segala masalahnya dari satu perspektif belaka.

Mereka punya prakonsepsi akan suatu hal—misal agama—dan menjadikannya satu-satunya parameter dalam menilai kebenaran. Kata kuncinya adalah ‘pokoknya’, alias apapun harus sesuai nilai yang dipercayanya sebagai filter kebenaran. Yang ga sesuai yang dilabeli salah.

Berurusan dengan orang-orang macam ini tak hanya susah, namun menjengkelkan. Logika tak bekerja, fakta tak diterima, bahkan realita kalau perlu didistorsi dengan memenuhi apa yang dianggapnya kebenaran semestinya.

Bagi saya mempunyai preferensi politik itu boleh-boleh saja. Mempunyai kecenderungan ideologis itu hak setiap kita. Menyukai atau tidak seorang pemimpin itu wajar kiranya.

Namun, menutup mata hanya pada apa-apa yang sesuai keinginan kita, mengarang dan menyebar cerita bohong demi memuaskan hasrat kuasa adalah absurd adanya.

Tak akan maju mereka yang berkacamata kuda. Tak akan berkembang mereka yang hanya menilai hitam putih dunia. Tak akan berhasil mereka yang merasa paling benar sementara yang lain selalu salah dari awalnya.

Logika, akal sehat dan empati adalah potensi yang dimiliki setiap kita. Namun hanya dengan mengasah dan memberdayakannya secara maksimal kita bisa menjadi manusia yang sebenarnya.

Jika ketiga hal tadi tak kita berdayakan, yang ada adalah pernyataan dan tindakan-tindakan bodoh bin absurd dari mereka para manusia berkacamata kuda.