Anjing dan Dilemanya

anjing dan pemiliknya di Inggris

Dulu saya tidak pernah berinteraksi dengan hewan satu ini. Namun selama di negeri ini, mau tak mau, anjing jadi salah satu hewan yang relatif saya akrabi.

Bagaimana tidak, hampir setiap hari, di hampir setiap tempat yang saya sambangi, ada anjing. Dari yang kecil nan lucu macam pug, hingga yang begal nan seram tampilannya macam bulldog. Dari yang fungsinya melengkapi tampilan fashion pemiliknya—macam poodle—hingga pemandu kaum difabel dengan keterbatasan penglihatan macam Golden Retrievers.

Sebagian mereka ramah, kadang terlalu ramah bahkan. Mereka akan melompat ke arah kita seakan minta dipeluk. Kadang, saya mengusap kepalanya. Dan mereka akan membalasanya dengan endusan sayang—well, setidaknya itu yang saya tangkap.

Tapi, sekali lagi, ada dilema di sini. Sebagai muslim, saya pun punya sedikit pretensi negatif ke anjing. Bukan karena mereka menjijikkan atau berbahaya, namun kerepotan yang ditimbulkannya apabila bersentuhan apalagi terpapar liurnya. Ya, bagi mayoritas muslim, liur anjing termasuk kategori najis.

Tapi point menarik lain yang saya temukan adalah, hewan satu ini memang setia. Amat setia bahkan. Utamanya pada majikan yang memeliharanya. Dan saya temukan ada relasi resiprokal antar keduanya.

Beberapa warga lokal pemilik anjing yang saya kenal bahkan menyatakan lebih sayang dan khawatir dengan anjingnya daripada—maaf—anak mereka yang sudah dewasa. Posisi anjing di keluarga mereka tak kalah, bahkan sering lebih utama dari darah daging.

Mungkin, kalau boleh saya menduga, tak lepas dari kultur individualistik di sini. Di mana relasi antar manusia tak seerat masyarakat komunal macam kita, sementara ada kebutuhan naluriah akan hubungan afektif dari yang lain. Ruang ini, nampaknya, bagi banyak pemilik anjing, diisi hewan berkaki empat tersebut.

Jadi wajar kalau ada ungkapan di sini, dog is a man’s best friend. Ohya, di luar semua hal positif soal anjing, ada yang menjengkelkan. Yaitu ketika anjing yang diajak jalan majikannya buang hajat dan kotorannya berlepotan di jalan. Meski ada aturan majikan wajib mengambil kotoran anjingnya, namun tak sedikit yang cuek meninggalkannya jadi ranjau biologis yang menjengkelkan jika terinjak.

Tabik!

Budaya Flat Cap Alias Topi Ceper Di Inggris

Flat Cap di Inggris

Masih soal penutup kepala, saya suka flat cap. Topi ceper dengan bagian depan rada maju ini umumnya terbuat dari kain woolen atau bisa juga katun. Topi macam ini sering disebut bunnet di Scotland atau Dai cap di Wales.

Kalau Anda bertanya gimana rasanya saat dipakai, well saya bilang nyaman. Selain nyaman, topi ceper ini ternyata punya sejarah lumayan panjang. Sudah ada sejak abad 14 ternyata, dan umumnya dipakai kelas pekerja, seperti pedagang, tukang dan sebagainya.

Namun dalam perkembangannya, topi ceper ini banyak diadopsi kelas atas, tentunya dengan pilihan bahan kain yang lebih baik. Bahkan, di kalangan akademisi ada tradisi penggunaan topi ceper—yang disebut Tudor bonnet—dalam penyematan gelar doktoral.

Flat cap kembali populer belakangan, terutama akibat tontonan layar kaca macam East Enders atau Peaky Blinders. Kalau Anda bosan dengan penutup kepala biasa, flat cap nampaknya menarik untuk dicoba.

Cheers mate!