Awas Jebakan Confirmation Bias

confirmation bias

Banyak dari kita mempraktekkan confirmation bias, sadar atau tidak. Di mana kita punya tendensi, atau kecenderungan, untuk mencari, menginterpretasi, memilih atau me-recall informasi yang sesuai atau mengkonfirmasi hal yang sudah kita percaya sebelumnya.

Bahasa simpel-nya, kita mengambil apa yang sesuai dengan kepercayaan kita, dan membuang lainnya, terutama yang berseberangan. Jika Anda sering berinteraksi dengan orang lain, khususnya mereka yang aktif mengikuti perkembangan politik tanah air, atau aktif berpolitik bahkan, maka Anda akan dengan mudah temukan contohnya.

Kebenaran informasi bagi mereka yang terjebak dalam confirmation bias tidaklah penting. Bahkan jika mereka menggunakan data sebagai sumber informasi, tidak penting validitasnya. Fakta bukanlah hal yang utama pula, karena sekali lagi, yang dipilah adalah informasi, data atau fakta yang sesuai dengan kepercayaannya. Lainnya disingkirkan.

Mau contohnya? Sekelompok orang ‘percaya’ bahwa kepala negara kita keturunan anggota partai terlarang, keturunan etnis minoritas, dan sejenisnya. Mereka membasiskan kepercayaan itu pada informasi entah dari mana, yang validitasnya dipertanyakan. Bahkan, ketika disodorkan informasi, data dan fakta yang jelas dan nyata membantahnya, mereka masih saja percaya demikian.

Ada lagi, sekelompok orang lain percaya bahwa umat agama mayoritas di tanah air ditindas penguasa. Para ulamanya dipersekusi bahkan dikriminalisasi. Sehingga karenanya, mereka butuh bangkit untuk melawan pemerintah. Apa dasarnya, well jangan tertawa jika saya bilang salah satu dasarnya adalah ‘kepercayaan’ di atas bahwa kepala pemerintahan kita keturunan atau simpatisan partai terlarang.

Dan sekali lagi, meski telah ditunjukkan informasi, data dan fakta yang membantah semua tuduhan tadi, masih saja mereka keukeuh dengan kepercayaannya.

Confirmation bias ini bersilangsengkarut dengan efek echo chamber, di mana seorang mempunyai kecenderungan mencari informasi dan mengafirmasi kebenarannya dari kelompoknya sendiri. Sehingga yang terjadi adalah amplifikasi kepercayaan yang bias tadi.

Ngeri bukan?

Karenanya amat sangat penting untuk tidak menerima mentah-mentah informasi apa saja dari siapa saja, terutama kelompok sendiri, tanpa melakukan cek dan ricek. Karenanya penting untuk mengkritisi informasi yang diterima, mencari tau sumber asalnya, kredibilitas pembuat dan penyampainya, mengkroscek dengan sumber informasi lain, sehingga meminimalisir confirmation bias tadi.

Karena apa? Karena pada akhirnya, confirmation bias kita tak hanya merugikan orang atau pihak lain yang terdiskriminasi olehnya, namun juga kita sendiri. Confirmation bias menjadikan kita tidak bisa melihat dunia dan realita secara fair dan proporsional. Confirmation bias menjadikan hidup kita penuh syak wasangka. Penuh ketakutan, penuh kekhawatiran dan penuh permusuhan.

Coba buka mata dan pikiran pada informasi, data dan fakta yang lain, yang belum tentu sesuai prekonsepsi kebenaran kita. Karena hanya dengan membuka diri macam ini, kita berkesempatan menemukan kebenaran yang sebenarnya.

Tabik!

Self-righteousness Karena Agama

Self-righteousness

Saya temukan fenomena menarik dari banyak kawan yang ‘menemukan kembali’ agama. Kawan-kawan yang dulunya ‘nakal’, namun kemudian di pertengahan jalan mendapatkan pencerahan, dan kembali ke jalan yang benar. Tak sedikit dari mereka tiba-tiba menampilkan tendensi self-righteousness.

Apa yang saya maksud self-righteousness? Tak lain tak bukan adalah kecenderungan untuk merasa dan menampilkan diri lebih superior dibanding yang lain, karena menganggap kepercayaan, aktifitas dan atau afiliasi kelompoknya paling benar dibanding yang lain. Atau kata anak Jakarta, mereka jadi songong.

Kecenderungan untuk merasa lebih baik, terkadang sampai titik yang menjengkelkan, sering dibarengi dengan semangat mendakwahkan kebenaran–tentunya versi yang dipercayanya. Segala apa yang baru didengarnya dalam pengajian disampaikan ke orang lain. Kadang tak melihat konteks, waktu atau tempat.

Sering ada juga kecenderungan untuk menilai bahkan menghakimi orang lain berdasarkan pandangan kebenarannya tersebut. Juga sedikit-sedikit mengaitkan perbincangan dengan dalil agama yang dihapalnya–atau di-Googlingnya.

Nah, kondisi macam ini diperparah lagi dengan kondisi politik belakangan. Yaitu maraknya praktek politik identitas, salah satunya dengan penggunaan agama sebagai jualan politik para elit. Kawan-kawan saya tadi banyak yang terseret masuk dalam gerakan politik agama. Bukan karena pengusung politik agama menawarkan program, agenda atau konsep yang lebih baik, namun hanya karena kesamaan sentimen agamanya semata.

Dan sekali lagi, tendensi self-righteousness tadi ikut-ikutan mereka bawa dalam berpolitik. Menganggap kelompok politik agama yang didukungnya adalah paling benar, sementara lainnya adalah salah, sesat atau bahkan sering kita dengar istilah kafir atau setan.

Betapa ngerinya hal ini. Bagaimana sesuatu yang awalnya baik–penemuan kembali nilai agama–berubah 180 derajat menjadi hal yang jauh dari nilai-nilai moral agama itu sendiri, macam kerendahan hati, prasangka baik dan persaudaraan.

Saran saya, jika Anda temui kawan-kawan macam ini, lebih baik dihindari. Kalau pun terpaksa berinteraksi, coba untuk tak perlu terlalu diambil hati. Tetap gunakan akal sehat, tetap pakai logika dan tetap berpikir terbuka.

Tabik!

Agama, Gaya Hidup Atau Jalan Hidup

jalan hidup

Membaca sebuah cuitan seorang tokoh menyentakkan saya. Dia menyayangkan kecenderungan sebagian umat Islam tanah air yang mengusung agamanya lebih sebagai gaya hidup, dan bukan jalan hidup.

Agama sebagai gaya hidup ya sesuai namanya, hanya sebagai gaya semata. Layaknya gaya hidup lain, ada trend di sana. Ada penekanan pada tampilan, visualisasi, bentuk luar, kulit dan tanda serta penanda.

Ketika semua atribut eksterior ini diadopsi, maka sah-lah seorang mengkalim diri telah beragama dengan benar. Atribut eksoteris macam ini kemudian dilihat orang lain, diafirmasi sesamanya dan nampaknya itu cukup baginya.

Lalu bagaimana dengan sisi interiornya? Bagaimana dengan esoteris religiusnya? Bagaimana dengan jiwa dan mentalnya?

Well, banyak yang menafikkan, karena sisi ini tidak terlihat, sisi ini tidak nampak dan tidak bisa dilihat orang lain. Karenanya tak terlalu penting.

Bagaimana dengan pendekatan satunya, agama sebagai jalan hidup? Di sini, tampilan, atribut, tanda dan penanda ‘agama’ bukan yang utama. Namun esensi moral, mental dan penyucian jiwa menjadi prioritas.

Menjadi umat yang baik dalam kacamata pandang ini artinya menjalani hidup dengan cara yang baik, lewat ucapan yang baik, hubungan dengan manusia lain dan segenap alam yang baik, dan pastinya tidak secara pongah mengklaim diri lebih baik dari yang lain.

Tengoklah para kyai kampung, yang hidupnya sederhana, yang tampilannya tak seberapa, yang ketika berbicara atau mengisi acara terasa hangat dan menentramkan. Ada korelasi antara ajaran dengan praktek kehidupan dalam dirinya.

Gaya hidup adalah tren yang amat mungkin berganti. Apa yang tendi sekarang, bisa jadi tak lagi trendi beberapa waktu mendatang. Apa jadinya jika agama dipahami sebagai tren?

Apakah kecenderungan ini yang dulu sempat diwanti-wanti Kanjeng Nabi sebagai umatnya yang banyak namun seperti buih lautan?

Bisa jadi demikian adanya. Bisa jadi ini adalah bahan renungan kita bersama. Untuk lebih menjadikan agama sebagai jalan hidup dan bukan gaya semata.

Tabik!